| Jokowi dan Ahok |
Kita sama-sama sudah membahas
model isme yang dijadikan dasar ideologi bagi banyak orang. Ada Marxisme, ada
zionisme, ada wahabisme, komunisme, kapitalisme dan banyak isme lainnya.
Nah, di Indonesia muncul paham baru bernama Instanisme atau pemakan mie
instan.
Paham instanisme ini tercipta
saat pilpres 2014 selesai. Mereka adalah orang-orang yang tidak puas akan
kepemimpinan Presiden sekarang dan selalu menuntut janji. Lucunya, milih aja
enggak tapi nuntut terus kerjanya.
Ada yang menuntut hasil dari
program Tax Amnesty yang kata mereka tidak ada hasilnya. Mereka berpatokan pada
laporan terdahulu yang mengabarkan bahwa di Singapura saja ada uang 4 ribu
triliun rupiah dan di luar negeri ada 11 ribu triliun rupiah. Lalu kemana janji
untuk menarik dana spektakuler ituhh?
Penganut paham instanisme tidak
pernah paham bahwa Tax Amnesty saja baru diluncurkan bulan Juli dan sekarang
masih Agustus.
Dengan waktu 2 bulan yang masih
dalam program sosialiasi, mereka memandang Jokowi adalah Superman yang dengan
mata supernya melihat uang di Singapura, dan lalu secepat kilat terbang kesana,
berantem dengan para pengusaha hitam, menang dengan membawa berkarung-karung
uang ke Indonesia.
Ada lagi yang mereka tuntut,
yaitu ekonomi Indonesia yang kata mereka melemah.
Penganut paham instanisme tidak
paham bahwa Jokowi dilantik Oktober 2014 dan sekarang 2016, baru menuju 2
tahun.
Mereka sama sekali tidak melihat
kemunduran selama 10 tahun sebelumnya dimana banyak hutang tidak efektif yang
terus berbunga, pembangunan infrastruktur mangkrak dimana-mana, korupsi
merajalela, mafia-mafia mulai dari pangan sampai migas masih mencengkeram kuat
Indonesia karena mereka sudah bercokol sejak masa Orba.
Mereka memaksa Jokowi membentuk kelompok
“The Avengers” yang berisi sosok Superhero untuk turun dan memberantas para
mafia dalam waktu maksimal 2 jam saja, seperti saat mereka nonton di bisokop.
Mereka melihat Jokowi harus seperti Hulk yang bisa mengangkat beton-beton,
tiang-tiang pancang dan membereskan seluruh infrastruktur mangkrak dalam waktu
singkat.
Ideologi instan mereka bahkan
melebar ke Jakarta, dimana mereka menuntut Ahok sudah harus membuat Jakarta
tidak banjir seluruhnya. Mereka tidak paham bahwa sudah berapa Gubernur di DKI
tapi sama sekali tidak menuntaskan sumber masalah. Mereka tidak mau tahu bahwa
banyak faktor Jakarta selalu banjir dan untuk menuntaskan itu harus
menyelesaikan satu persatu faktor yang ada.
Kaum instanisme hanya duduk,
berdoa supaya Tuhan berbelas kasihan padanya dan menganggap semua masalah
selesai dalam waktu yang sangat singkat. Tuhan kan Maha? Masak gitu aja tidak
bisa?
Ketika mereka tidak puas, mereka
memilih mie instant sesuai selera, membuka bungkusnya, memasak air sambil
memaki-maki situasi yang tidak sesuai harapannya. Mie sudah jadi, tambahkan
telur dan cabe rawit supaya menggugah selera.
Sesudah itu mereka buang mie-nya
dan memakan mangkoknya.
Sudah saatnya seruput kopi sore
ini dan memahami kenapa ada yang percaya bahwa bumi itu datar.