![]() |
| Cita-cita |
"Pa, aku mau jadi dokter
aja.."
Sebaris kalimat di kotak pesanku
muncul. Itu dari anakku yang sebentar lagi kuliah. Ia sedang dalam masa berada
pada simpang jalan, ingin kemana ia berjalan?
Aku terdiam sejenak. Kuhirup
nafas panjang dan kubakar sebatang rokok yang tersisa. Kopi masih ada. Sudah
waktunya kubalas pesannya.
"Sayang, senangnya papa kamu
mau jadi dokter. Itu cita-cita yang mulia. Sama seperti cita-cita ketika kamu
mau jadi ahli hukum, jadi wakil rakyat bahkan jadi pemuka agama.
Tapi tahukah kamu, nak?
Menjadi dokter itu berarti kamu
siap mengabdi kepada sesama manusia. Dokter itu bukan nilai dari sebuah status
sosial, bukan juga sebuah peluang atau kesempatan. Menjadi dokter itu berarti
kamu sudah siap mengemban sebuah amanat, pengabdian panjang untuk berfungsi
kepada sesama manusia.
Dokter adalah profesi akhirat,
bukan dunia. Itu adalah jalan langsung menuju surga, jika kamu memahaminya.
Tetapi itu juga jalan penuh ujian, ketika engkau tidak paham dengannya.
Engkau akan dibalur dengan
pujian, kehormatan, godaan kekayaan yang setahap demi setahap akan menggilas
habis niat awalmu semula yaitu menolong sesama manusia.
Pahami dulu keberadaannya,
sebelum kamu masuk ke teknisnya. Kamu akan berada di medan perang antara
perilakumu kelak yang akan menjadikanmu hewan atau tetap sebagai manusia. Sadar
tentang itu saja, sudah merupakan perjuangan yang sangat berat.
Tuhan akan mengujimu dengan
mendatangkan si miskin dan si kaya, lalu Ia menanti bagaimana sikapmu terhadap
mereka?
Tuhan akan mengujimu dengan
mereka yang membutuhkan pertolongan dan mereka yang mengangkatmu dengan
kehormatan, lalu Ia menunggu apa yang bisa kamu lakukan terhadapnya?
Tapi apapun yang ingin kamu
lakukan, lakukanlah. Biar waktu dan peristiwa yang akan membentuk dirimu
disana. Karena tidak ada yang terbentuk secara mudah, semua harus berjalan
sesuai kodratnya. Semakin keras engkau ditempa, seharusnya semakin terlihat
bentuk dirimu secara nyata.. "
Aku menghembuskan nafas panjang
dan kulihat rokokku sudah terbakar separuh tanpa sedikitpun kuhisap.
Ternyata melepas seorang anak ke
medan perang itu sungguh berat. Kuseruput kopiku sampai tandas, sudah waktunya
aku harus berjuang melepaskan keterikatanku padanya...
"Teruslah berjalan, jangan
pernah ragu terhadap apa yang kamu citakan.
Dan jangan lupa, ketika kamu
kembali di simpang jalan, tidak tahu kemana arah harus bersikap, dan kamu
terduduk lelah menangis karena bimbang.. Ingatlah aku, ayahmu.
Kan kuberikan nasihat Imam Ali
sebagai pegangan, tempat papa berpegang selama ini supaya selamat di kehidupan.
Papa sayang padamu, nak.. Doaku
untukmu selalu.. "
Kukirimkan pesan padanya. Belum
terbaca. Ah, baru kuingat kopiku sudah tandas sedangkan hujan di luar semakin
deras...
