![]() |
| Al Kitab Buat Bungkus Tempe |
Salah satu unsur yang
menyelamatkan situasi di NKRI dari perpecahan adalah kedewasaan umat beragama
yang dicap minoritas di Indonesia..
Salah satunya adalah umat
Kristiani...
Entah sudah berapa kali mereka di
provokasi untuk diadu dengan melecehkan simbol-simbol mereka, mulai dari
bungkus tempe dari sobekan Alkitab sampai sandal bergambar Yesus dan bunda
Maria.
Sayangnya, konspirasi untuk
membuat umat Kristen "naik darah" seperti membentur tembok yang
keras. Mereka menyikapi pelecehan itu dengan gaya yang berbeda, bahwa itu bukan
pelecehan tetapi bagian dari mengabarkan.
Apakah mereka tidak marah ketika simbol-simbol
itu dilecehkan?
Tentu marah, saya yakin itu.
Marah itu menandakan seseorang itu masih sehat dan mempunyai emosi. Hanya saja,
mereka mampu mengalirkan emosinya ke dalam bentuk kasih, sebagaimana tertuang
dalam alkitab mereka, "bila engkau ditampar pipi kananmu, berikanlah pipi
kirimu.."
Mereka dengan sangat dewasa
menyikapi pelecehan itu dengan bahasa-bahasa yang gembira, jauh dari kemarahan.
Malah mereka mampu membalik pelecehan itu sebagai bagian dari mengabarkan
keimanan mereka, menguatkan kepercayaan mereka dan -pada kasus bungkus tempe
dari sobekan Alkitab- bersyukur bahwa firman Tuhan berfungsi untuk membantu
penjual tempe dalam bentuk bungkusan.
Sungguh sebuah pembelajaran yang
menarik bagi umat Islam yang suka marah-marah dan selalu tersinggung dalam
setiap kesempatan seperti wanita ketika sedang datang bulan.
Meskipun saya tidak bilang bahwa
itu semua umat Kristen, tapi mayoritas dari mereka di media sosial selalu
menyejukkan jawabannya.
Dan saya suka senyum-senyum
sendiri membacanya, meski kadang kurang asik karena kok ya datar-datar saja,
beda ma komen-komen di setiap postingan saya banyak yang meledak-ledak seperti
letusan gunung Toba.
Hormat saya yang tinggi kepada
mereka yang dewasa dalam beragama. Yang tidak membungkus dirinya dengan
baju-baju keagamaan yang ketat seperti alay pergi ke diskotik, yang merendah
ketika terus di provokasi dan melapangkan dada ketika terzolimi.
Apa yang dilakukan umat Kristen
di Indonesia, senada dengan apa yang dilakukan umat Islam diwakili oleh
kyai-kyai toleran dari NU yang dengan ringan melangkahkan kakinya ke gereja
sekedar untuk menyapa dan memperkenalkan diri, meski dirinya dicaci maki oleh
saudara seimannya.
Nilai seorang manusia adalah
ketinggian ahlaknya.
Berlomba-lomba merendahkan hati
dan meyakini bahwa "mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah
saudaramu dalam kemanusiaan" haruslah menjadi pondasi bahwa kita ini ada di
negara yang meyakini satu nusa, satu bangsa, satu bahasa tetapi tidak satu
agama..
Nah, kapan kita bisa duduk dan
minum kopi sama-sama?
