| Perspektif |
" Status renungan yang
sering ku buat itu bukan untuk menasehati orang lain.."
Saya mengambil secangkir kopi dan
-horee- ada tahu isi yang tersedia lagi di meja. Bu warkop rupanya sudah
sadar bahwa dia khilaf menuduhku tidak bisa membayar hutang-hutang di warkop yang
sudah berusia 2 tahun 6 bulan itu. Belum 3 tahun nagihnya sengit amat..
'Status renungan itu sebenarnya
untuk saya sendiri. Fesbuk ini ibarat sebuah diary, dimana saya merenung dengan
harapan bisa menjadi orang seperti yang saya tuliskan..
Saya menasehati diri sendiri,
bukan orang lain. Lha saya siapa kok bisa-bisanya menasehati orang lain, diri
sendiri aja belum betul.. Sebagai penampar bahwa saya jauh dari apa yang
diharapkan dan sesuai dengan nasihat Imam Ali..
Kalau kemudian ada orang lain
yang terinspirasi, tersentuh bahkan ikut berkaca dengan renungan itu, itu hal
lain. Karena perspektif orang dalam memahami teks bisa sangat berbeda
tergantung dia sedang dalam situasi apa..
Pahami itu.."
Temanku mengunyah tahu isi yang
tinggal satu-satunya. Geram dibuatnya. Sudah makannya banyak, pake acara nambah
lagi.
Dengan enteng temanku bertanya
dengan mulut penuh, "Kenapa kamu mesti klarifikasi?"
"Supaya ketika Angelina
Jolie tiba-tiba siaran langsung mengaku bahwa dia adalah anak hasil kerja
kerasku di kamar mandi, kamu tidak memakiku, mengatakanku munafik bahwa
statusku tidak sama dengan perbuatanku.."
Kumakan cabe rawit yang tersisa,
tahu isinya dah gak ada. Cabe lagi, cabe lagi...
" Aku juga manusia, punya
tangan punya jari, jangan samakan dengan pisau belati..."
Kuseruput kopiku. "Buuu..
orang ini yang bayarrr. Mangan telu ngaku sijii.. "
Temanku terbengong melihatku
lari. Aku ketawa dalam hati. Masih untung kubilang tiga, wong makannya lima
biji...