Ketika akhirnya adek Intan Olivia
korban bom Samarinda wafat karena luka bakar yang serius, saya tertarik untuk
melihat pandangan kaum sebelah.
Dan benar sesuai dugaan saya,
jangankan bersedih atau mengutuk aksi itu, mereka sibuk berbicara bahwa bom
Samarinda adalah pengalihan isu dari kasus Ahok.
"Kenapa begitu? Apakah
mereka sudah tidak punya hati?". Kalau masalah hati, sudah tidak usah
ditanyakan lagi. Jika punya, sejak lama mereka sudah waras dalam berkomentar. Tapi selain masalah hati, hal
yang perlu diwaspadai adalah propaganda mereka.
Perhatikan saja, mereka tidak
menemukan celah bahwa yang melakukan pemboman ini adalah non muslim. Jika ada -entah
itu dalam bentuk KTP atau identitas apapun- maka mereka menggonggong sahut
menyahut bahwa "Ini perbuatan kafir, ini fitnah terhadap Islam".
Tetapi ketika teridentifikasi
bahwa memang teroris itu beragama Islam, maka teriakan mereka berbeda,
"Itu pengalihan isu!".
Jadi, kalah menang, mereka tetap
selalu pengen menang sendiri. Itu sifat yang dibangun dengan sistematis, kebanggaan
diri akan golongannya.
Siapa yang mengabarkan bahwa bom
Samarinda adalah "pengalihan isu pemerintah atas kasus Ahok"?.
Sesudah saya telusuri, yang
pertama adalah Desmond J Mahesa, Wakil Ketua Komisi III dari Gerindra. Ooww.
Perhatikan perkataannya, "Di
tengah kondisi hari ini yang suasana politik agak panas, akibat demo tanggal 4
dan sampai sekarang masih terasa, apakah ini bukan daripada mainan?".
Luar biasa, sebuah apresiasi
penuh cinta dari seorang wakil rakyat terhadap mereka yang
"diwakilinya".
Kedua, yang sering dikutip adalah
pernyataan pengamat terorisme yang juga Direktur The Community of Ideological
Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya. Eh, siapa Harits abu Ulya?. Menurut penelusuran, dia adalah
mantan (?) Ketua Lajnah Tsaqafiyyah HTI. Oow.. ada HTI-nyah ternyata.
Coba perhatikan perkataannya yang
saya ambil dari hasil wawancaranya dengan media online tidak terkenal
drise-online tentang lembaganya.
"CIIA adalah komunitas yang
di dalamnya berkumpul beberapa person generasi Muslim yang punya kesadaran
ideologis untuk ikut mengawal pertarungan pemikiran, opini dan propaganda demi
sang “fajar “ (Khilafah) kembali terbit..". Aha, propaganda untuk mengawal
khilafah.... Sudah mulai kelihatan bentuknya.
Dan ada juga Tengku Zulkarnain,
dari MUI yang di ILC pernah bicara untuk memotong kaki dan tangan "penista
agama". Bahasa mereka semua sama, bahwa ini pengalihan isu dan dikutip
oleh banyak media online seperti portalpiyungan, eramuslim dan sejenisnya.
Lalu di share secepat "Lucky
Luke yang menembak lebih cepat dari bayangannya sendiri" oleh kaum
hore-hore yang hidup dengan mengandalkan otot daripada akal.
Konsep "pengalihan isu"
ini adalah bagian dari propaganda untuk melemahkan kredibilitas pemerintah.
Buat mereka, korban hanyalah "bagian dari permainan perang" saja.
Jadi jangan berharap mereka
bersedih, mengutuk apalagi berdemo terhadap tragedi itu. Mereka malah
memanfaatkannya sebagai senjata untuk menyerang aparat dan pemerintah.
Nah, kenali dulu pola permainan
mereka supaya kita sadar bahwa mereka sebenarnya memainkan
"agenda-agenda" dengan menunggangi agama melalui politik. Tak kenal
maka tak sayang....
Masak mau selamanya menjadi
"umat buih lautan" yang diombang-ambing tanpa sedikitpun pengetahuan?.
Eh, seruput dulu kopinya. dah mau malam.
