Mereka dulu teman mainku,
kenangan masa kecilku. Puluhan tahun kami tidak bertemu, sampai akhirnya media
sosial mempertemukan kami kembali.
Kami saling menyapa, saling
berteriak penuh kejutan lucu melihat tubuh kurus kering dan korengan dulu,
sekarang tambun dan ada yang sudah beruban. Yang dulu cantik dan menjadi
rebutan, sekarang sudah melebar dan penuh kerutan. Kami menggali kembali
memori-memori lama yang lucu dan indah.
Kami bertemu kemudian dan mulailah
reuni-reuni panjang itu. Aduh senangnya, serasa terlempar kembali ke masa
lalu..
Media komunikasi berkembang. Kami
membuat grup di whatsapp dan saling bercanda hampir tiap malam. Kadang
cekikikan waktu ada yang menyentil kembali kegilaan masa lalu, saat hidup tidak
punya beban.
Hingga satu waktu...
Awalnya seorang teman men-copas
pesan-pesan agama yang panjang. Kami menerimanya sebagai pesan baik, meskipun
agama kami tidak sama. Kami pun memberinya jempol sebagai tanda menghargai apa
yang dia lakukan.
Tàpi yang terjadi kemudian adalah
sebuah kesalahan. Ia mendominasi percakapan, kembali mencopas pesan-pesan
panjang tentang agama dan bahasanya selalu menasehati dengan mengutip ayat-ayat
bertuliskan arab yang sungguh kami tidak mengerti.
Dan muncullah teman-teman lama yang
selama ini diam, ikut menyemangatinya dan berseru dengan bahasa-bahasa arab
yang membuat kami serasa bukan di negeri sendiri. Bahkan ketika ada yang sedang
sakit atau ulangtahun, merekapun menyapanya pula dengan bahasa arab yang
membuat kami semakin tidak mengerti.
Mereka seakan tidak mau tahu
bahwa tidak semua beragama sama..
Mendekati pilgub DKI, mereka
semakin ganas. Tulisan kafir semakin merajalela. Meskipun -kami tahu- bahwa itu
ditujukan kepada seorang Gubernur, tapi apakah mereka tidak punya empati
sedikitpun bahwa kami beragama sama dengan orang yang mereka katakan kafir itu?.
Satu persatu temanku terbaik
menghilang suaranya dari grup itu.. Kami yang dulu sering cekikikan, terdiam
dan kulihat mereka meninggalkan grup. Grup menjadi dominasi satu agama
tertentu.
Perlahan grup menjadi gersang,
seperti padang pasir yang sulit didekati tanaman. Aku sendirian bertahan dalam
diam...
Akhirnya kuputuskan untuk
meninggalkan grup. Sudah tidak layak untuk kupertahankan. Bahkan aku sudah
tidak lagi mengenali mereka yang dulu kukenal.
Agama sudah merenggut
kenangan-kenangan manis itu. Keimanan sekarang harus ditampakkan di ruang
terbuka, bukan lagi menjadi hubungan pribadi dengan Tuhan.
Entah kenapa aku tidak merasa
kehilangan mereka. Mungkin memang waktu yang merubah segalanya. Biarlah
kusimpan memori-memori lama dalam sudut gelapku. Kubungkus rapat dan kusimpan
dalam gudang otakku. Aku sendiri tidak tahu, kapan akan kubuka lagi pintu
gudang itu...
Ah, mereka pasti akan bilang
bahwa aku lebay. Tidak mengapa, setidaknya aku bisa mencurahkan isi hatiku...
Selamat tinggal, teman masa
kecilku. Menjadi dewasa ternyata bisa sangat menakutkan...
