![]() |
| Anies dan Pandji |
Saya sebetulnya tidak kenal
Pandji Pragiwaksono. Juga jarang sekali menonton aksinya. Yang saya tahu dia
seorang yang ahli bermain standup komedi atau melawak sendirian diatas
panggung.
Orang yang diatas panggung mampu
membuat orang lain tertawa, tergolong orang yang cerdas. Apalagi jika dia
monolog, tentu kecerdasannya diatas rata-rata. Dan biasanya topik yang paling
membuat orang tertawa adalah ketika kita mentertawakan diri sendiri dengan
membawakan kekurangan kita menjadi kelebihan.
Hanya sampai disitu saya mengenal
Pandji. Sampai ia akhirnya menjadi timses salah satu paslon di Pilgub DKI.
Banyak celotehannya yang
membanggakan calon yang didukungnya. Dan kebetulan saya akhirnya tahu bahwa
Anies -salah satu calon- adalah teman dekatnya. Sulit sekali memang ketika
akhirnya seorang teman dekat meminta kita untuk menjadi pendampingnya. Apalagi
ini dalam ajang politik, tempat banyak manusia berubah sesuai kepentingannya.
Saya teringat seorang teman yang
sempat menderita. Ia dulu mendukung temannya supaya menjadi Kepala daerah. Ia
berjuang mati-matian, mengerahkan seluruh apa yang dia punya supaya temannya
menjadi apa yang dia inginkan.
Dan ketika temannya jadi, ia pun
menjadi satu dari sekian orang yang bangga. Ia mendampingi temannya itu
beberapa saat, sebelum akhirnya ia sadar bahwa sang teman berubah.
Apa yang ia lihat bahwa sang
teman tidak mampu keluar dari pusaran politik yang keras, yang mengharuskannya
menjadi pribadi yang berbeda. Sang teman menjadi oportunis dan sudah tidak pada
jalur awal ketika ia berikrar.
Akhirnya -karena tidak tahan
menderita- temanku keluar dan tetap menjaga pertemanan baik dengan temannya
yang sudah menjadi tokoh itu tetapi tidak mau lagi terlibat dalam setiap
keputusan politik yang jauh dari semua retorikanya.
Temanku tidak bisa berkhianat
pada nuraninya. Kebenaran yang dulu dijunjungnya tidak ingin ia pertaruhkan
lebih jauh hanya karena pertemanan. Teman tetap teman, ideologi tidak bisa
dilacurkan, begitu katanya.
Lalu saya melihat Pandji dan saya
kagum padanya. Pandji -dalam rekam jejak
digitalnya- adalah seorang yang humanis, ideologis bahkan berani menyampaikan
pendapatnya secara terang-terangan.
Ia pernah menyampaikan "FPI
jangan pernah dibubarkan dan harus tetap ada, biar kita tahu kalau orang yang
gak pernah sekolah jadinya kaya apa".
Dan sekarang ketika teman yang ia
dukung itu juga didukung FPI, ia menjadi berbeda dan berkata bahwa yang
dilakukan Anies adalah menjadi jembatan pemersatu.
Pandji tiba-tiba menjadi orang
yang naif yang menganggap bahwa FPI begitu mudah diatur dan ditata. Ia tidak
pernah berfikir bahwa Anies lah yang nantinya akan ditata oleh FPI, sama
seperti Arya Bima Walikota Bogor yang dikungkung oleh HTI.
Pandji tidak sadar, bahwa FPI
jauh lebih besar, lebih kuat dari seorang Anies yang bahkan sulit menjaga
konsistensi ucapannya sendiri.
Dan sekarang Pandji kembali harus
menelan ludahnya sendiri ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Anies
si teman itu, berteman baik dengan keluarga Soeharto yang juga menjadi
pendukungnya dalam pilgub ini.
Padahal Pandji pernah mengkritik
betapa parahnya orang yang ingin kembali ke masa Orba. Ia bahkan pernah memakai
kaos yang berkonsep, "32 tahun Soeharto, uang dan darah.." Dan sekarang,
ia harus mencoba mengkhianati nuraninya ketika ia melihat bahwa Cendana ada
dibelakang temannya.
Mungkin Pandji berfikir sama,
"Ah, Anies mampu menjadi jembatan yang baik dengan keluarga
Soeharto..." Pandji membayangkan Anies adalah Superhero pemersatu yang
dengan tubuh ringkihnya berhasil menguasai FPI dan keluarga Cendana.
Disinilah saya kagum dengan
Pandji, karena biar bagaimanapun bagi saya pelajaran yang tersulit adalah
berkhianat pada nurani sendiri... Pandji jauh lebih jago dari itu.
Itulah kenapa saya lebih senang
berteman dengan secangkir kopi. Ia pahit, hitam dan dengan segala keburukannya
ia jujur. Dan jujur itulah sumber kenikmatan sesungguhnya. Seruput dulu, ah.
