![]() |
| Ansor |
Sejak lama ketika saya mengingatkan kepada saudara-saudara seagamaku akan bahayanya virus wahabisme dalam Islam, saya selalu dituding
mengadu-domba dan memecah belah.
Intimidasi itu semakin keras ketika perang Suriah
berlangsung. Saya bahkan ditinggal teman2 masa kecil karena menurut mereka saya
berbahaya, mengganggu akidah mereka, munafik, kafir, syiah dan segala macam
tuduhan lainnya.
Dan di satu sisi mereka membela ISIS, Front Al Nusra,
Ikhwanul Mulimin dan organisasi garis keras di dunia lainnya. Buat mereka,
itulah "Islam" sebenarnya.
Menariknya, ketika akhirnya ISIS resmi dinisbatkan sebagai
organisasi teroris, mereka yang dulu membela ISIS, tiba2 berbalik dan menuding
bahwa ISIS itu Syiah.
Ketidak-mampuan sebagian umat Islam melihat bahaya dalam
barisan internalnya sendiri ini yang menjadi masalah global. Kebanggaan
berlebih terhadap agamanya, membuat mereka menolak setiap kabar bahwa ada virus
jahat yang sedang menggerogoti Islam dari dalam.
Mereka -para pemuja ISIS dan organisasi sejenisnya- selalu
berteriak anti Israel, tapi tidak pernah bertanya kenapa ISIS tidak pernah
menyerang Israel, malah menyerang saudara2nya sesama muslim di Libya, Irak,
Nigeria, Afghanistan dan Suriah?
Kenapa bisa begitu?
Karena logika berfikir mereka sudah tidak jalan, itu
jawabannya. Mereka sudah tidak mampu memilah mana benar dan mana yang salah.
Mereka sudah kadung tunduk pada ustad-ustad yang sibuk
mendoktrinkan bahwa "agama" mereka paling benar, sehingga mereka
pasti benar. Akal diharamkan disini karena mereka lebih tunduk pada dogma.
Kalau pernah menonton film-film zombie, seperti itulah mereka. The Walking dead.
Mereka mengharamkan perbedaan pendapat dan tafsir, juga
sangat tekstual memahami kalimat dalam kitab suci dan hadis-hadis. Sejarah
kemunculan "umat Islam" yang bodoh dan keras seperti ini pernah
muncul saat pemerintahan khalifah ke 4 Islam, Ali bin abu thalib. Mereka
dinamakan khawarij. Beruntungnya kita ada Nahdlatul Ulama.
Sejak awal NU lah yang meneriakkan bahayanya virus wahabi
ini. Bahkan mereka menerbitkan buku "Sekte berdarah Salafi Wahabi".
Ideologi penuh darah ini sedang berkembang di seluruh dunia dalam bentuk
organisasi spt ISIS, Boko Haram, Ikhwanul Muslimin, Alqaeda, Taliban dan lain-lain.
Bahkan Malaysia sudah mengharamkan paham radikal ini
berkembang di negara mereka. Paham wahabi ini yang juga melahirkan Noordin M
Top dan Dr Azahari disana.
Bahayanya, mereka selalu meng-klaim bahwa merekalah Islam
sejati. Ketika pandangan bebal mereka dikritik, mereka selalu berlindung
dibalik kata "jangan memecah belah sesama muslim, muslim itu
bersaudara". Tapi disisi lain, mereka terus menyerang saudara sesama
muslimnya.
Makanya saya bersyukur bahwa terjadi penolakan keras
terhadap ajaran wahabi ini di Jawa Timur, dipimpin oleh Banser dan GP Ansor. NU
bisa dibilang adalah "obat keras" yang bisa menghantam paham radikal
ini. NU memisahkan mana paham radikal dan mana paham moderat dalam Islam di
Indonesia.
Mungkin kalau tidak ada NU, kita sudah dari kemaren-kemarin jadi
Suriah kedua. Saran saya untuk teman2 muslim, kenalilah agamamu sendiri.
Agama kita adalah agama rahmat bagi semesta alam. Nabi kita turun untuk
menyempurnakan ahlak manusia.
Jadi, jika ada orang/ustad/ulama yang mengklaim bahwa ia
adalah Islam tapi perilakunya keras, kasar, tak berotak, bangga berlebihan
terhadap agamanya, suka mengkafirkan, lebih baik hindari.
Karena dekat mereka hanya ada dua pillihan, melawan atau
terkontaminasi. Waspadalah, waspadalah... kata secangkir kopi. Mari kita hitung komen yang marah-marah.
