![]() |
| Ridwan Kamil |
Panasnya pilgub Jabar sudah
dimulai. Meski masih 2018 nanti, tapi beberapa tokoh sudah mulai ancang-ancang.
Selain Ridwan Kamil, Dedi Mizwar juga sedang mencari pegangan.
Dua orang ini memang bukan orang
partai. Mereka sedang mencari dukungan, siapa partai yang mau melamar mereka. Lebih
asik bahas kang Emil, karena kalau bahas Dedi Mizwar nanti saya nangis mulu
lagi.
Ceritanya, pada waktu
panas-panasnya penjaringan pilgub DKI, kang Emil disebut sebagai salah satu
kandidat seksi untuk melawan Ahok yang masih menjadi calon independen. Maka
datanglah kang Emil ke Jakarta untuk melihat, "bener gak sih, gua seseksi
itu?".
Dari sumber yang bisa dipercaya,
ternyata pada waktu ke PDIP, kang Emil dilarang untuk tarung di Jakarta.
"Lu siap-siap untuk Jabar 1 aja," begitu kata PDIP. PDIP memang belum
punya calon kuat di Jabar sesudah kekalahan Rieke & Teten.
Janji ini dipegang kuat oleh kang
Emil. Tapi belum selesai. Kabarnya lagi, kang Emil ketemu
Prabowo. "Bagaimana, pak? Apakah saya bisa dicalonkan untuk melawan Ahok?". Prabowo manggut-manggut. "Jangan dulu, Gerindra gak punya calon
kuat untuk Jabar. Kamu nanti disana aja".
Sebagai catatan, kang Emil waktu
menjadi walikota Bandung didukung oleh Gerindra dan PKS. Dan Gerindra - PKS
jugalah yang waktu pilgub DKI dengan semangat membaja ingin mencalonkan dia
sebagai lawan tanding kuat Ahok.
Nah, apakah koalisi kedua partai
ini juga akan mengusung kang Emil di Jabar? Tunggu analisa saya nanti ya.
Kita lanjutkan.. Maka kang Emil
pun pulang ke Bandung dengan memegang kedua janji tersebut. Dan berjanji untuk
fokus selesaikan masa tugas di Bandung sampe 2018.
Nah pilgub Jabar semakin dekat.
Bagaimana reaksi kang Emil? Tentu dong kang Emil bergerak kembali untuk
menagih janji itu. Kepada siapa ? Ke Gerindra atau PDIP ? Ya, kalau bisa
dua-duanya, kalau ngga ya salah satu aja.
Kang Emil pun menyusun tim
pemenangan. Lobi-lobi dilakukan untuk mengangkat namanya ke permukaan kembali
dengan harapan entah PDIP atau Gerindra meliriknya kembali.
Sementara ini yang baru deklarasi
baru Nasdem, tapi Nasdem hanya punya 5 kursi. Sedangkan dibutuhkan 20 kursi
baru partai bisa mencalonkan seorang Gubernur. Jadi tetap kang Emil butuh
Gerindra atau PDIP.
Masih bingung di simpang jalan,
kabar baru datang dari Bandung yang membuat kang Emil tambah pusing.
Relawan kang Emil yang dulu
memenangkannya menjadi Walikota mendesak ia untuk fokus di Bandung saja. Sampai
sekarang, Bandung belum punya calon yang sebagus kang Emil. Ditakutkan kalau
kang Emil maju di Jabar, maka Bandung akan mundur kembali jika calon Walikota
nanti dari kelompok lama.
Ditarik sana-sini, tentu membuat
kang Emil bingung. Ternyata terlalu seksi itu gak enak juga. Ibarat wanita,
bingung menentukan pilihan. Yang satu ganteng bingits, tapi masa depan suram.
Satunya lagi jelek amit-amit tapi dompetnya tebal.
Tambah mantan yang dulu ngajak
balikan lagi. "Disini aja sayang, biar kita hap hap lagi seperti
dulu.." Auwwww..
Sudah bingung mau pilih yang mana
ditambah gak boleh keluar Bandung, datang lagi satu "ancaman" kuat,
si seksi tetangga sebelah Kang Dedi Mulyadi yang namanya terus naik ke
permukaan dan punya kendaraan kuat yaitu Golkar yang sudah pegang 17 kursi.
Makin galau kayaknya kang Emil..
Sulit untuk memilih dan merenung
di sudut sambil memegang secangkir kopi. "Apakah aku harus rela berdua
dengannya? Benarkah di poligami itu indah?". Mari kita tanya pada Aa sajah..
