![]() |
| Kehidupan |
"Saya selalu menganalogikan
hidup ini seperti sebuah game, permainan elektronik".
Temanku membuka percakapan dengan
gayanya yang -seperti biasa- lugas, waktu kami sedang nongkrong di warung kopi
sore hari. Ia selalu bisa menyederhanakan penjelasan dengan
perumpamaan-perumpamaan dalam gaya bahasa awam dan mudah dimengerti karena
membawa contoh sesuatu yang dikenal.
"Kita manusia ini sejatinya
hidup mencari poin-poin bonus yang akan membawa kita pada level-level permainan
yang lebih tinggi.
Kita yang harus mencari dimana
poin-poin itu. Ada yang terlihat di depan mata dan ada yang tersembunyi di batu
bata yang harus disundul supaya poinnya keluar..
Kerjaan kita dalam hidup ini
hanya mengumpulkan poin-poin itu saja, tidak lebih. Dan ketika poin itu
terkumpul, maka level baru akan terbuka.
Level baru ini tingkat
kesulitannya lebih tinggi, tetapi nilai poinnya pun lebih banyak. Dan disetiap
level kita akan menemukan musuh-musuh baru yang semakin lama semakin kuat.
Ada musuh yang cukup kita hindari
saja, tetapi ada juga musuh yang harus kita lawan sebagai pembuka pintu level
selanjutnya.."
Aku mendengarkannya dengan penuh
perhatian. Menarik sekali penjelasannya sehingga aku mengabaikan kopiku yang
tadinya panas mendingin dengan sendirinya.
Tidak sabar aku pun bertanya,
"Dalam kehidupan nyata, poin-poin itu diartikan sebagai apa?"
Temanku tersenyum. Ia menyeruput
kopinya dengan tenang. Tampak kestabilan dalam dirinya karena ia memahami apa
sejatinya manusia itu dan fungsinya di dunia.
"Poin-poin itu adalah amal.
Banyak manusia yang salah mengira bahwa ia di dunia tugasnya mengumpulkan
harta. Kesalahan pandangannya itu dampak dari ia mengukur dirinya dan orang
lain dengan materi. Sehingga ia pun menjadi penilai dan selalu menilai manusia
lain dengan materi juga..
Orang-orang yang selalu memandang
dunia ini dengan materi, lupa bahwa ia harus mengumpulkan poin-poin amal dalam
hidupnya. Ia - di dalam kehidupannya - menjadi manusia yang merugi, karena
hartanya akan lenyap bersamaan dengan ketiadaan dirinya di dunia ini.
Sedangkan musuh-musuh yang muncul
dalam setiap level adalah nafsunya sendiri. Nafsu yang harus ia hindari dan
yang harus ia perangi. Ketika ia tidak berhasil mengalahkan nafsunya sendiri,
sesungguhnya ia terus berada dalam level yang itu-itu saja tapi ia tidak sadar
diri.
Dan ketika ia berhasil
mengalahkan nafsunya di level yang lebih rendah, maka di level selanjutnya ia
akan bertarung dengan level nafsunya yang semakin kuat.."
Temanku berhasil menghadirkan
tentang nilai-nilai sejati yang harus dicari manusia di dunia ini. Bukan
materi, tetapi nilai dalam bentuk amal yang tidak mempunyai wujud di alam
materi ini.
Aku mengerti sekarang. Betapa
mudah sebenarnya ketika kita mengenal apa, siapa dan bagaimana kita di dunia
ini. Mengenal diri kita dengan memahaminya, sejatinya adalah pengetahuan
manusia yang tertinggi.
"Lalu apa gunanya poin-poin
amal yang kita kumpulkan itu?" Tanyaku penasaran.
Temanku menatapku. "Kamu
tahu bahwa sesudah alam materi ini, ada alam lain yang akan kita jalani? Alam
non materi yang berupa perjalanan kedua kita sebelum menghadapi hari pengadilan
nanti.
Disanalah poin-poin amal itu
berfungsi. Poin amal itu adalah bekal kita, penyelamat kita sehingga kita tidak
buta dan tersesat di alam yang tidak kita ketahui.
Poin amal itu menjadi kompas,
menjadi pelita, menjadi penyelamat kita saat kita menghadapi kesulitan.
Bayangkan, ketika kita tidak punya bekal di alam itu nanti..."
Ah, begitu rupanya. Sebuah
rahasia terbuka. Sederhana seharusnya, tetapi banyak dari kita yang lupa bahwa
ada perjalanan kedua nanti. Perjalanan di dunia yang tidak kita ketahui.
Sore itu hujan gerimis. Terbuka
lagi satu bab dalam kehidupan ini. Kopiku jadi terasa nikmat sekali..
"Kenapa dunia ini dinamakan
dunia? Karena ia paling rendah dari segala sesuatu.." Imam Ali as.
