![]() |
| Temu Wicara Alumni ITB |
Saya mendengar kata
"Segregasi" itu dari pak Imam B Prasodjo saat diskusi di depan alumnus
tambang ITB. Segregasi itu menurut KBBI adalah pemisahan satu golongan dari
golongan lainnya.
Pak Imam merasakan sendiri betapa
segregasi itu dampaknya mengerikan. Ketika satu kelompok merasa lebih tinggi
dari kelompok lainnya, maka yang sulit dihindarkan adalah gesekan diantara
keduanya.
Di luar negeri kita melihat
peristiwa bagaimana permasalahan suku melegalkan genosida oleh suku Hutu kepada
suku Tutsi di Rwanda. Begitu juga ketika Serbia menghabisi Bosnia.
Seperti kata Gus Yaqut Ketum GP Ansor dalam sebuah perbincangan. "Saya harus bergerak terus meski lelah karena tidak ingin meninggalkan jejak kehancuran negeri ini kepada anak saya. Ini tanggung jawab saya sebagai orangtua.."
Di negeri kita sendiri cerita
tentang peristiwa Ambon, Tobelo Halmahera, Poso dan Sampit adalah kenangan yang
menyakitkan. Atas nama suku dan agama, manusia menjadi tuhan-tuhan baru yang
menghalalkan untuk memenggal, memperkosa dan membakar mereka yang tidak
segolongan dengan mereka.
Sialnya, manusia tidak pernah
belajar.
Meski ayat-ayat di kitab suci
mana saja berulangkali mengatakan, bahwa tidak ada manusia yang lebih daripada
yang lainnya kecuali amal perbuatan mereka, ayat itu seakan hanya menjadi
bacaan dikala gundah tapi tidak berpengaruh apapun pada hatinya.
Banyak peristiwa yang bisa
menjadi pelajaran, tapi kita tidak pernah belajar darinya. Banyak manusia yang
goblok tidak berkesudahan. Dogma-dogma digunakan sebagai pembenaran dengan
nafsunya tanpa pernah menggunakan akal dalam menafsirkannya.
Segregasi di Indonesia sekarang
sudah semakin menemukan bentuk kecilnya, yaitu agama. Manusia
"dipaksa" berkelompok menurut agamanya.
Maraknya perumahan
mengatas-namakan agama dan hanya agama tertentu yang boleh tinggal disana
semakin memperluas perbedaan. Masih ditambah para mualaf yang mabok karena baru
merasakan nikmatnya arak agama, sehingga bahkan keramas di salon pun ditanya
agamanya apa..
Bahkan seorang kepala daerah
terkenal memakai parameter agama dalam menyalurkan hak untuk warganya. Yang
agama mayoritas di fasilitasi, sedangkan agama minoritas hanya dilindungi.
Gila, kan?
Saya mendengar seorang teman
bercerita, bahwa gurunya ketika habis bersalaman dengan mereka yang tidak
sealiran, harus mandi besar untuk menghilangkan kenajisan. Luar binasa. Manusia
suci dilahirkan dari guru-guru yang suci juga. Kalah Nabi derajatnya...
Saya merasakan situasi ini begitu
massif dan sulit dicegah. Meski sebenarnya kesalahan terbesar ada di kita juga.
KTP kita bicara "apa agamamu", sehingga kita terkotak berdasarkan apa
yang kita yakini secara pribadi.
Rwanda saja sudah merasakan itu
adalah kesalahan terbesar mereka sehingga 1 juta manusia terbantai dalam
sebulan, mereka sehingga menghapus kolom "suku" di KTP mereka.
Apakah pemerintah bisa menghapus
kolom agama di KTP kita? Sulit sekali karena pasti akan mendapat banyak
tentangan dari semua pihak. Mungkin kita harus mengalami terbantai sejuta
manusia dulu seperti Rwanda baru mulai belajar merangkak..
Terus bagaimana cara melawannya?
Dalam diskusi di beberapa gereja
-entah kenapa saya malah sering diundang oleh saudara-saudaraku yang bukan seiman
tapi sama dalam kemanusiaan- saya menyarankan banyak hal.
Jangan sembunyi dalam kotak-kotak
komunitas bahkan untuk kegiatan sosial. Sudah tidak penting nama gereja
diumumkan karena yang lebih penting bantuannya atau branding gerejanya ? Ketika
pihak gereja terjebak dalam komunitas utk kegiatan sosial seperti itu, maka
tudingan Kristenisasi akan muncul sebagai alat politik untuk memperkeruh
suasana.
Yang terbaik adalah undang semua
agama dalam hal tolong menolong sesama manusia, dimulai dari tetangga sekitar.
Dan viralkan foto-foto dimana antar umat beragama saling bekerjasama dengan
rasa cinta. Propaganda kejahatan lawan dengan propaganda kebaikan.
Tetapi memang memulai itu sulit
sekali terutama ketika kita sendiri yang menjadi korban intimidasi sudah merasa
kalah duluan sehingga malah sembunyi di sudut ruangan.
Saya tidak akan lelah untuk
berbicara dimana saja sebagai bentuk perlawanan. Karena saya sudah banyak
menonton betapa pedihnya hati ketika satu wilayah hancur hanya karena masalah
sepele "siapa lebih mulia dari siapa".
Seperti kata Gus Yaqut Ketum GP
Ansor dalam sebuah perbincangan. "Saya harus bergerak terus meski lelah
karena tidak ingin meninggalkan jejak kehancuran negeri ini kepada anak saya.
Ini tanggung jawab saya sebagai orangtua.."
Terkadang memang kita sebagai
orangtua harus banyak belajar kepada anak-anak kita bagaimana bermain
benteng-bentengan tanpa harus memisahkan diri berdasarkan agama, "Oke,
kami yang muslim melawan kalian yang kristen ya.."
Ah, kopi. Hanya engkau yang tidak
mempermasalahkan dimanakah dirimu berada, karena engkau hanya menyuguhkan
kenikmatan di setiap lidah manusia..
Seruput dulu ah..
