![]() |
| Jokowi |
Sejak Jokowi menjabat sebagai
Kepala Negara, sudah begitu banyak isu yang digoreng untuk menghancurkan
kredibilitasnya.
Mulai dari pencabutan subsidi
yang di framing ke kenaikan harga BBM dan listrik, ekonomi melambat meski
terjadi perubahan budaya belanja, sampai hutang yang semua kesalahan ditimpakan
kepadanya.
Gorengan isu paling fenomenal
tentu adalah dengan keberadaan Ahok. Ahok adalah pintu gerbang untuk menjebak
Jokowi supaya ikut terlibat ke dalamnya. Dengan wajan aseng menguasai pribumi,
sembilan naga sampai melindungi penista agama, mereka terus berusaha menggedor
pintu pemerintahan Jokowi.
Apa yang mengindikasikan bahwa
isu itu digoreng ke Jokowi?
Tentu dengan melihat keterlibatan
para pemain politik lawannya yang ikut berkomentar memanaskan situasi melalui
media mainstream dan sosial.
Tapi sementara ini Jokowi adalah
pemuda tangguh yang berhasil melewatu jebakan-jebakan yang disediakan. Selama
hampir 3 tahun pemerintahannya, Jokowi berhasil menguasai situasi bahkan
mengendalikan bola-bola panas yang diarahkan kepadanya.
Seperti Po, si kungfu Panda, bola
panas yang ditembakkan berhasil diredam dan ditundukkan. Safarinya ke
pesantren-pesantren dan para ulama adalah gerakan efektif yang berhasil meredam
banyak isu PKI yang ditudingkan kepadanya.
Hebatnya, bukan hanya meredam,
Jokowi juga berhasil menaikkan citranya dengan menunggangi gorengan isu itu.
Semakin ia di bully, semakin tumbuh simpati banyak orang kepadanya.
Itulah kenapa elektabilitasnya
belum turun-turun sampai sekarang. Survey terakhir dari SMRC, elektabilitas
Jokowi masih 57 persen. Responden yang puas dengan hasil kerja Jokowi mencapai
67 persen. Sedangkan responden yang percaya pada kemampuan Jokowi memimpin, ada
di angka 69 persen.
Situasi ini membuat lawan
politiknya panik. Mereka berusaha menghadang dengan segala cara supaya nama
Jokowi jatuh, atau setidaknya turunlah. Apalagi ini sudah semakin dekat Pilpres
2019..
Senjata terakhir yang mereka
gunakan saat ini adalah isu Rohingya. Dengan kepanikan mereka berusaha
membangun persepsi bahwa pemerintahan Jokowi tidak berbuat apa-apa pada tragedi
Rohingya.
Bahkan seorang mantan Menkominfo
dari partai syari nan varokah bahkan sempat menyebarkan gambar hoax pembantaian
Rohingya untuk membangun unsur drama kesadisan peristiwa itu, sambil melirik ke
Jokowi apakah isu ini akan berpengaruh kepadanya atau tidak.
Kenapa masalah Rohingya begitu
menarik perhatian masyarakat Indonesia dibandingkan masalah Yaman, Afrika dan
kejadian luar negeri lainnya ?
Isu Rohingya ini sebenarnya sudah
menjadi isu biasa karena kronologis peristiwanya sendiri sudah terjadi sejak
lama. Bahkan sudah banyak yang menjelaskan bahwa Rohingya itu bukan masalah
agama tapi konflik geopolitik di Myanmar.
Tetapi karena digoreng, dengan
tambah massifnya gambar-gambar hoax yang ditebarkan, maka isu itu sebenarnya
dibangun untuk kembali menjebak Jokowi juga.
Jebakan pertama adalah bagaimana
Jokowi menyikapi isu ini? Jika Jokowi menganggap biasa, maka akan dimunculkan
persepsi bahwa Jokowi tidak punya empati sebagai Kepala Negara. Jika reaktif
berlebihan, maka Jokowi akan digiring ke persepsi bahwa masalah dalam negeri
saja belum selesai, ngapain ngurusin masalah negara lain?
Jebakan kedua, adalah munculnya
kebencian kepada umat beragama Budha. Diharapkan api kebencian ini akan
memantik kerusuhan di daerah -seperti misalnya pembakaran Vihara- yang akan
menjadi PR baru bagi pemerintahan yang akan digoreng kemudian, bahwa Jokowi
tidak mampu memimpin.
Sejauh ini Jokowi berhasil
meredam isu dengan mengirimkan Menlu untuk berdialog dengan pemerintahan
Myanmar. Jokowi juga sudah memberikan statemen keras terhadap tragedi itu.
Bahkan Muhaimin berinisiatif melakukan konferensi pers bersama para bhiksu
untuk menjelaskan bahwa konflik Myanmar bukan masalah agama.
Begitu anggunnya cara pemerintah
Jokowi menyelesaikan masalah. Tanpa reaksi berlebihan, mereka langsung bergerak
pada poin-poin penting tanpa pencitraan. Tidak perlu muncul di tipi dengan nada
prihatin, tidak perlu berteriak supaya terlihat gagah di mata publik, apalagi
harus naik kuda sambil menyatakan, "lindungi umat muslim di Myanmar
!"
Bola panas kembali berhasil
dikendalikan..
Cara-cara elegan meredam gorengan
isu inilah yang menjadikan pemerintahan Jokowi jadi terlihat seksi dimata
mereka yang dulu tidak menyukainya. Makanya hasil survey Jokowi tidak bergeser
sedikitpun dari posisi teratas dibandingkan lawannya..
Habis Rohingya, mau goreng isu
apalagi ?
Yah kembali lagi ke isu cina
pribumi, asing aseng, PKI dan masalah hutang yang diulang-ulang terus kayak
kaset rusak. Bosan membahasnya, tapi efektif di kalangan masyarakat bawah.
Untung saja pak Jokowi ketika
memberikan statemen di tipi menyikapi Rohingya terlihat tegas dan elegan.
Saya gak bisa membayangkan jika
Jokowi bereaksi seperti Jonru, yang ingin terlihat gagah mengepalkan tangan ke
atas sambil berteriak, " Sa.. sa.. saya tidak takut!!". Seruput kopi dulu ahhhh..
