Selasa, 18 Desember 2018

ADA SALIB KAYU DI KUBURAN

Yogyakarta
Salib Kayu
Timeline saya hari ini penuh dengan peristiwa pemenggalan salib di Yogyakarta.

Kronologinya, ada seorang Kristen yang meninggal di wilayah mayoritas Muslim. Nah pada saat keluarga ingin menguburkan, datanglah sekelompok orang mengaku warga keberatan dengan salib sebagai penanda kuburan. Akhirnya ada kesepakatan salibnya di gergaji, dan virallah berita itu dimana-mana.

Siapa yang salah, warga atau keluarga ?

Ah, kalau mencari siapa yang salah tentulah kita akan sibuk mencari kesalahan, tidak akan pernah ketemu dan malah menjadi perdebatan. Tapi coba kita melihat dari perspektif berbeda, supaya adem ya.

Tentu kita paham, bahwa virus intoleransi sudah lama mewabah di kalangan masyarakat. Puluhan tahun dibiarkan tanpa pernah ada usaha untuk menyadarkan.

Jadi ketika melihat ketidakmampuan warga Yogya dalam menerima perbedaan, saya bukannya benci malah kasihan. Mereka tidak mengerti, itu saja. Mereka merasa tidak nyaman ketika di lingkungan mereka yang muslim, ada salib kayu besar yang sangat berbeda dengan lingkungan sekitar.

Malah karena kejadian itu, warga ingin menjadikan komplek kuburan itu sebagai komplek kuburan muslim bukan lagi umum.

Nah, umat Kristen semoga bisa melihat situasi ini dengan lapang dada dan berpikiran terbuka. Saya yakin umat Kristen banyak yang cerdas dan bisa mengambil kesimpulan bahwa virus intoleransi tidak bisa dilawan dengan spontan, perlu therapy setahap demi setahap.

Karena itu jika satu waktu ada peristiwa yang sama, bagaimana jika salib kayunya diganti dengan nisan biasa serupa dengan nisan kuburan sekitarnya tapi ada gambar salib kecilnya ? Ini tentu akan lebih mudah diterima, daripada harus berbeda dengan situasi sekitarnya.

Mengalah belum tentu kalah, tetapi menunjukkan kebesaran jiwa. Seperti secangkir kopi yang bersedia diseruput dalam tingkat sosial dimana saja, yang penting tidak kehilangan nikmatnya.

Seruput?
Semoga semua mahluk hidup berbahagia.

Artikel Terpopuler