Rabu, 02 Januari 2019

Jokowi yang Hebat dan Komunikasi yang Gagap

Joko Widodo
Jokowi dan Menteri PUPR (Trans Papua)
Dalam sebuah diskusi saya pernah menyampaikan....

"Dalam berkomunikasi tentang program atau keberhasilan, jangan selalu pakai angka, mainkan emosi mereka. Karena angka tidak bisa menyentuh rasa."

Dan sesudah diskusi itu, disepakatilah untuk membuat sebuah film tentang program pencabutan subsidi listrik pemerintah. Hanya kali ini sudut pandang yang dibangun bukan lagi dalam bentuk penjelasan dengan teori "ndakik ndakik" kenapa subsidi listrik dicabut, tetapi mengambil sudut penjelasan tentang "berbagi".

Ya, berbagi. Banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa pencabutan subsidi listrik di kota besar, bisa membantu pembangunan listrik di daerah terpencil seperti di desa-desa Papua yang baru terang sesudah Indonesia lebih dari 70 tahun merdeka.

Konsep "berbagi" ini menyentuh sisi kemanusiaan seseorang, apalagi ketika dihadirkan dalam bentuk visual melalui video tentang perjuangan saudara kita di Papua yang listrik di desanya baru saja menyala. Akhirnya, banyak yang paham kenapa subsidi listrikbya dicabut dan mereka rela membayar sedikit lebih mahal demi berbagi dengan saudaranya sebangsa.

Dalam berkomunikasi itu ada "bahasa". Penting sekali untuk memahami bahwa tingkat pendidikan masyarakat kita masih jauh dari terdidik untuk memahami sebuah tindakan.

Tulisan Denny Siregar sebelumnya, 2019 Peringatan Untuk Timses Jokowi.

Jadi, pakailah bahasa mereka. Jangan seperti seorang Profesor yang sedang berhadapan dengan anak-anak SMP, lalu menyampaikan dengan bahasa seorang Profesor pula. Tentu mereka tidak akan mengerti, dan jika mereka tidak mengerti pesannya pasti tidak sampai.

Inilah yang masih kurang dari pemerintahan Jokowi, caranya mengkomunikasikan program dan hasil kerjanya dalam bahasa yang menyentuh emosi. Kebanyakan para akademisi yang berada di samping Jokowi, selalu menggunakan bahasa teknis tentang "apa" dan "kenapa" sebuah program dijalankan.

Malah kadang dengan infografis yang penuh angka, yang bukannya membuat orang banyak mengerti, malah justru mumet gak keruan. Sudah visualnya gak menarik, angka-angkanya banyak lagi. Siapa yang bisa paham?

Jokowi sendiri sudah menorehkan banyak prestasi dalam kerjanya. Bisa saya bilang, prestasi Jokowi ini adalah revolusi, karena dalam waktu singkat ia mampu menghadirkan dari ketiadaan menjadi ada. Seperti infrastruktur di mana-mana dari mangkrak puluhan tahun lamanya.

Tapi, kedahsyatan ini akan sia-sia belaka jika tim komunikasinya tidak mampu mengabarkan ke masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami dan menyentuh emosi mereka.

Seperti sebuah lukisan. Meskipun lukisan itu sangat bagus, tapi tidak ada nilainya jika lukisan itu tidak punya cerita dan tidak ada yang menceritakan dengan membangun emosi penikmatnya.

Saya selalu mencontohkan kehebatan kitab suci. Kitab suci itu bukan saja isinya yang hebat, tetapi cara penyampaiannya saja sudah hebat.

Bayangkan, bagaimana menyampaikan sebuah kebaikan kepada masyarakat yang pada masanya bodoh dan barbar? Tentu harus ada kalimat metafora, pengandaian, bahasa pendekatan yang mereka kenal, supaya pesan-pesan itu sampai.

Dan untuk membahasakan sesuatu yang rumit menjadi sederhana, butuh cara pandang yang luas dan kecerdasan di atas rata-rata.

Setuju, kan? Seruput kopinya.

Tagar.Id

Artikel Terpopuler