Kamis, 11 April 2019

BAGAIMANA CARA HTI MEMECAH NEGERI INI?

Hizbut Tahrir
Bahayanya Hizbut Tahrir adalah ketika mereka melakukan penyusupan ke militer. Jejak Hizbut Tahrir di seluruh dunia, selalu berujung pemberontakan militer.
Tahun 1974, kelompok bernama Shabab Muhammad menyerang sekolah militer di Kairo Mesir, untuk melakukan kudeta dan usaha membunuh Anwar Sadat, Presiden Mesir kala itu. Para pelaku mengumumkan berdirinya negara Islam dibawah kepemimpinan Hizbut Tahrir. Kudeta itu gagal dan semua pelakunya dihukum mati.
Di Bangladesh Pakistan, tahun 2012, Hizbut Tahrir melakukan percobaan kudeta yang juga gagal melibatkan purnawirawan dan perwira militer aktif.
Di Yordania, mereka juga melakukan penyusupan di militer dan melakukan kudeta yang gagal tahun 1969. Begitu juga yang terjadi di Irak dan Suriah, tahun 1972 dan 1976.
Kenapa militer? Karena mereka mempunyai akses senjata yang menjadi syarat utama untuk melakukan kudeta.
Pembiaran kelompok Hizbut Tahrir di Indonesia, selama 10 tahun SBY berkuasa, memungkinkan kader mereka untuk menyusup ke tubuh militer melalui berbagai cara, salah satunya dengan berbaju "ulama". Dari sana, Hizbut Tahrir memetakan siapa-siapa saja pejabat tinggi yang memungkinkan untuk diperdaya.
Hizbut Tahrir ini unik. Mereka mampu membangun ormas-ormas agama dengan nama berbeda, untuk kemudian digabungkan menjadi satu ketika saatnya diperlukan. Melalui ormas-ormas agama ini Hizbut Tahrir memegang jaringan "umat".
Dengan modal jaringan "umat", Hizbut Tahrir ,kemudian melakukan pendekatan kepada oknum pejabat militer yang dijanjikan akan menjadi penguasa kelak. Ketika mereka kudeta nanti, akan ada legitimasi bahwa militer didukung oleh umat atau masyarakat. Cantik, kan ?
Dan satu unsur lagi pemegang modal, yaitu mafia atau pengusaha hitam yang akan memegang proyek jika mereka berkuasa. Kudeta adalah investasi, sehingga harus ada potensi balik modalnya.
Politikus ambisius hanyalah pion bagi mereka. Bisa disingkirkan kemudian.
Dari pola-pola seperti ini, kita bisa melihat betapa berbahayanya Hizbut Tahrir dengan gerakan senyap mereka. Berbeda dengan ormas radikal lainnya yang mengandalkan otot, HTI itu adalah otak.
Itulah ketika Jokowi membubarkan mereka di tahun 2017, HTI meradang. Mereka pernah ingin melaksanakan kudeta kecil melalui gerakan besar, tetapi geraknya ketahuan dan gagal.
Dan sebagai gerakan selanjutnya, mereka ingin memainkannya secara konstitusional, yaitu melalui Pemilu. Untuk ikut dalam Pemilu, mereka harus masuk di barisan koalisi partai peserta. Dan disanalah mereka membangun agenda selanjutnya.
Seram, kan?
Itulah kenapa Pilpres 2019 ini bukan sekedar Pilpres biasa, tetapi perang ideologi antara Pancasila versus Khilafah.
Rapatkan barisan. Kita seruput kopi bersama.

Artikel Terpopuler