Selasa, 30 April 2019

DUIT SIAPA PINDAHIN IBUKOTA KE LUAR JAWA?

Ibukota
@fotoSeword, Ibukota
"Woii, duit siapa 400 triliun rupiah untuk mindahin ibukota? Pemborosan untuk pencitraan!".
Pagi-pagi dah nemuin status yang reaktif terhadap ide Jokowi memindahkan ibukota. Dan seperti biasa juga, ditambah komen dengan caci maki berhamburan.
Saya sendiri heran, kenapa mereka senang sekali mencaci ya? Seperti ada masalah dalam kehidupan pribadi dan butuh pelampiasan untuk memaki. Mungkin lagi pada ketakutan ditagih pinjaman online yang telat sudah 2 bulan.
Sebenarnya perkiraan biaya yang dikeluarkan pemerintah sebesar 466 triliun rupiah itu hanya sebatas perhitungan saja. Tapi belum tentu uang itu keluar dari kantong pemerintah sendiri. Jokowi juga gak bodoh mau ngeluarin uang segitu besar dimasa seperti ini.
"Trus, pake duitnya siapa? Hutang lagi?"
Haha, ya gak perlu hutang lah. Ngapain?
Undang saja 2 atau 3 perusahaan swasta besar untuk bangun komplek pemerintahan baru itu. Sistemnya kerjasama, pemerintah yang punya lahannya, swasta yang bangun. Sistem ini dikenal dengan nama Public Private Partnership.
Si swasta yang bangun mendapat konsesi untuk membangun area komersial disana, mulai perumahan, apartemen, rumah sakit atau sekolah. Mereka juga bisa mengoperasikannya. Tapi tanahnya tetap milik pemerintah, meski bisnisnya swasta yang kelola.
Nah sebagai barternya, swasta membangun sarana pemerintahan seperti Istana Presiden dan gedung-gedung pemerintahan lainnya. Saling menguntungkan dengan konsep kerjasama dan tidak akan ada timbal balik selain masalah keuntungan investasi.
Mirip dengan pembangunan infrastruktur lain seperti jalan tol, pelabuhan dan bandara. Ini model yang sudah biasa dibanyak negara, termasuk Indonesia.
Potensi negeri ini adalah tanahnya yang luas dan penduduknya yang banyak. Dan swasta dari negara manapun pasti tergiur untuk investasi di Indonesia. Dengan masuknya investasi dalam bentuk pembangunan ini, yang pasti serapan tenaga kerja juga akan sangat banyak dan ekonomi disekitar juga akan bergeliat.
Jadi, apanya yang boros? Semua tergantung sudut pandang mana yang dipakai. Kalau sudut pandang nasabah pinjaman online ya pasti rugilah, karena pasti tiap bulan takut ditagih karena malu ketika debt collector nelponin semua rekan kerja.
Sudah paham?
"Halah, wong Jokowi pemilu aja curang. Harusnya Prabowo yang menang!!"
Mulai keluar topik lagi deh. Mending seruput kopi aja, sambil ketawa baca bahasa maki-maki yang menjadi sarapan mereka di pagi hari.

Artikel Terpopuler