Sabtu, 20 April 2019

HASUTAN HTI DIBALIK KERAS KEPALANYA PRABOWO

HTI
Bachtiar Nasir
"Jadi begini.." cerita temanku di warung kopi.
"Keras kepalanya Prabowo itu bukan tanpa alasan. Ia begitu tidak mungkin tanpa dukungan. Ingat cerita kita dulu tentang 'monster dibarisan Prabowo' ?
Mereka sekarang sedang bekerja keras membangun kekuatan narasi supaya halusinasi kemenangan Prabowo akan semakin menguat di masyarakat awam.
Ini memang tipikal kerjaan Hizbut Thahrir dan Ikhwanul Muslimin. Cari pemimpin yang megalomania dan delusional, bangun mimpi dikepalanya bahwa ia adalah seorang raja yang tidak terkalahkan, lalu support dengan gerakan demo dari kelompok dan jaringan mereka seolah ini dukungan rakyat.."
Uh, ngeri juga pikirku.
"Lihat, nanti akan ada demo-demo kecil dulu dari kelompok mereka yang selama ini itu-itu aja, yang sebelumnya kumpul-kumpul di Monas. Demo-demo ini tujuannya untuk menguatkan delusi Prabowo bahwa dialah pemenang.
Prabowo akan merasakan ada dukungan arus kuat dari masyarakat, padahal itu semu. Lalu ia memerintahkan gerakan yang lebih besar. Bisa jadi ia akan melobi mahasiswa dan buruh untuk membangun gelombang baru.."
"Dan yang senang tentu orang-orang HTI dibelakangnya. Coba perhatikan waktu Prabowo deklarasi kemenangan kemaren, ada wajah-wajah yang kamu kenal disana dibelakang Prabowo.
Kepala-kepala ormas garis keras yang memang ingin mendorong situasi ini sampai ke puncak. Mereka terus membisikkan kepada Prabowo supaya "perintahkan massa bergerak, kami akan bergerak".
Itu ciri khas penghasut. Mereka tujuannya bukan untuk memenangkan Prabowo. Prabowo menang itu bonus bagi mereka. Hizbut Thahrir sebetulnya menginginkan ada perang saudara. Besar sekalian jika perlu.
Untuk apa ? Supaya negeri ini pecah berkeping-keping, dan dari reruntuhan itu mereka teriak, "Demokrasi telah gagal, khilafahlah solusinya !"
Kopiku mendingin mendengar ceritanya. "Terus apa yang harus kita lakukan ?" Tanyaku.
Dia ketawa. "Beda Indonesia dengan masyarakat Timur Tengah adalah disini kultur guyonan masih sangat kental. Di Timteng, mungkin karena daerahnya sangat panas, bawaannya pengen perang.
Karena itu, jalan terbaik jangan terpancing untuk menggerakkan massa juga ke jalan, sebab itu yg mereka harapkan. Serahkan semua urusan di lapangan pada polisi dan TNI. Kita cukup ketawain propaganda kebodohan mereka supaya masy awam tidak melihat situasi terlalu tegang.
Humor itu sangat bagus spy investor luar melihat situasi negeri ini tetap aman. Dgn begitu ekonomi kita tetap stabil dan berjalan. Karena negara yang bisa mentertawakan ancaman dengan humor sesungguhnya adalah negara yg sangat kuat pertahanannya.."
Aku seruput kopi di cangkirku dan membayangkan Indonesia ini seperti desa Galia di komik Asterix, dimana humor adalah senjata terbaik melawan pasukan Romawi.
Demi Toutatis ! Mari kita ikat FadliZonix dan FahriHamzahix ke pohon supaya mereka tidak menyanyi lagi. 

Artikel Terpopuler