Jumat, 19 April 2019

Ketika Bali Menghajar Prabowo Sandi

Prabowo dan Sandiaga Uno
Prabowo dan Sandiaga Uno di Kertanegara
"Jangan pernah ganggu Bali."
Begitu temanku menulis di statusnya. Dia geram ketika Sandiaga Uno berjanji akan membangun wisata halal di Bali.
Wisata halal adalah sejenis wisata yang bertujuan untuk mengundang sebanyak-banyaknya turis dari Timur Tengah. Itu mirip dengan wisata syariah yang dulu hendak digagas oleh Masyarakat Ekonomi Syariah MES dan ditolak mentah-mentah oleh masyarakat Bali.
Entah apa yang menjadi sumber ide untuk menghalalkan atau mensyariahkan Bali. Bali itu jelas-jelas mayoritas beragama Hindu, bukan muslim yang perlu dengan label syariah atau halal. Halal bagi masyarakat beragama Hindu belum tentu halal bagi yang beragama muslim.
Lagian Bali sudah penuh sesak dengan wisatawan dari berbagai negara seperti Eropa, Australia dan China. Tidak perlu harus mengemis-ngemis wisatawan Timur Tengah yang belum tentu juga royal membelanjakan uangnya di sana.
Kegilaan akan konsep syariah dan halal ini sangat mengganggu masyarakat Bali. Kalau masalah "halal bagi yang beragama muslim" selama ini Bali sudah sangat toleran. Di mana-mana ada restoran Padang dan Jawa yang terjamin kehalalannya. Terus, mau halal yang bagaimana lagi yang harus diterapkan?
Bali juga sudah sangat terkenal di dunia Internasional. Bahkan di beberapa tempat namanya lebih menjulang daripada nama Indonesia sendiri. Jadi untuk apa ditambah-tambah dengan konsep halal atau syariah ?
Dan untuk itu, warga Bali harus memberi pelajaran keras pada Sandiaga Uno. Mereka beramai-ramai tidak mencoblosnya pada Pilpres 2019 ini.
Hasilnya, dari lebih 3 juta pemilih di Bali, 92 persennya memilih Jokowi. Sebuah hajaran telak yang membuat pasangan lawannya terjungkal dengan mata berkunang-kunang di sana dan sulit bangkit lagi.
Bali mempertahankan jati dirinya dengan sangat elegan. Mereka tidak perlu berteriak-teriak dengan demo besar yang berulang-ulang, yang membuat wisatawan asing malah takut dan merasa terancam.
Cukup dengan jari ungu, maka perang pun selesai sudah.
Saya menghormat masyarakat Bali atas segala upaya yang telah dilakukan. Biarlah Bali tetap menjadi Bali. Karena keBaliannya itulah yang membuat mereka dicintai.
Salam seruput kopi. (Tagar.id)

Artikel Terpopuler