Minggu, 28 Juli 2019

AGAMA MIE INSTAN

Agama
Cara Pandang
DennySiregar.id, Jakarta - Waktu nulis tentang logika "Poligami" dan "72 Bidadari", seperti biasa ada komen yang ruwet..
Tapi lucunya kali ini bukan cuman kadal gurun aja yang gak terima, tapi ada yang Kristen juga. Mereka sibuk mempermasalahkan hal-hal yang mereka anggap tidak sesuai dengan Kitab mereka.
Saya ketawa. Ya jelas antara Injil dan Alquran secara redaksi pasti beda. Rentang turunnya aja sekitar 600 tahunan. Penyampainya juga beda, kultur masyarakat dan daerah yang disampaikan juga beda, tingkat pendidikan mereka juga beda.
Ada yang komen gini, "Ah di Kitab kami tidak ada tuh, surga disampaikan dengan model kenikmatan wanita.." Ya iyalah. Beda masyarakat Yahudi pada masa itu, beda pula masyarakat Arab pada waktu itu. Konsep kenikmatannya juga pasti beda. Kalau sama malah lucu. Berarti tingkat pemahaman seluruh manusia dulu sama dan setara.
Malah aneh jadinya, wong sekarang aja tingkat pemahaman orang yg di kota sama yang di dusun saja sudah jelas beda sehingga cara menyampaikan sesuatu juga beda.
Mencoba membandingkan redaksi antara Injil dan Alquran secara apple to apple, tanpa melihat konteks atau waktu berlakunya, jelas menyalahi logika. Sudah salah melogikakan sesuatu, mengolok-olok pula.
Inilah yang sejak lama jadi biang keributan, terutama ketika saya mengikuti page debat Islam Kristen tahun 2011an lalu. Yang debat gagal paham semua, mencoba membandingkan redaksional kedua kitab tanpa melihat konteksnya. Akhirnya berantem di redaksinya, dan kehilangan esensinya.
Kegagalan logika juga tampak jelas ketika hanya gara2 penafsiran yang salah pada sebagian orang dalam agamanya, dijadikan kesalahan semua pemeluk agama. Bahkan sumber agama itupun dibilangnya salah.
Permasalahan umat beragama sejak lama adalah sibuk mengurusi kitab lain, hanya karena merasa kitabnya lah yang paling benar. Padahal kebenaran di sebuah kitab, belum tentu penganut kitabnya benar. Mengolok-olok ajaran orang lain, tanpa mencoba memahaminya, jelas salah besar. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sombong dan merasa pintar padahal otaknya dangkal.
Tapi lucunya, yang sibuk debat agama, kalau ada link pemersatu bangsa, secara mendadak redaksi mereka pun sama. "Bagi linknya dong.." tidak membutuhkan penafsiran yang berbeda. Semua sama. Sama2 lidahnya menjulur, wajah memerah dan tangan mengepal siap mengocok apa saja yang ada.
Dibutuhkan keterbukaan diri dalam memahami ajaran yang berbeda. Saya sudah terbiasa mendengar pemahaman dalam ajaran yang berbeda, dengan merendahkan diri sehingga ilmu masuk dengan banyaknya.
Itulah kenapa saya lebih senang menulis untuk menyampaikan, daripada berdebat untuk mencari pembenaran.
Seperti secangkir kopi. Mau kopi tubruk, Cappucino, Coffee Latte, tentu mempunyai konsep kenikmatan yang berbeda. Kesamaanya adalah ketika air kopi itu menyentuh lidah, langsung terdengar suara kepuasan atas kenikmatan sesuai yang takaran yang diinginkan.
Seruput.

Artikel Terpopuler