Kamis, 04 Juli 2019

NEGERI PARA PENJILAT LUDAH

Politik
Rapat Pleno
DennySiregar.id - ”Lidah tidak bertulang. Belum kering liur di bibir. Masih tergores nyata dalam ingatan. Tersusun rapih dalam jejak digital.
Kini mereka berlomba. Saling sikut. Bekejaran agar dirangkul kekuasaan yang dulu mereka sebut planga plongo, PKI, antek aseng dan asing, anti Islam! "Politik hanya permainan. Senda gurau belaka.." Kata mereka meyakinkan.
Sementara rakyat masih terbelah karena semburan kebohongan lidah digital. Mereka manipulasi makna 'rekonsiliasi' dengan 'jadi menteri'. Politik pengap. Berdebu. Beracun."
Tidak sengaja saya membaca coretan Raja Juli Antoni, Sekjen Partai Solidaritas Indonesia di IGnya yang berbau keresahan. Ia ada di dalam lingkaran kekuasaan, menjadi saksi mata bagaimana politik bisa begitu bangsatnya. Mungkin jika saya ada disana, saya bisa muntah berhari-hari, melihat banyak orang dengan entengnya menjilat ludahnya kembali.
Masih segar dalam ingatan kita bagaimana para politisi partai Demokrat seperti Ferdinan Hutahaean mengejek-ejek Jokowi dalam twitnya. Bagaimana Andi Arief menyebut koalisi Jokowi sebagai faksi setan. Dan si Rocky Gerung menyebut boneka dan dungu dengan tanpa perasaan.
Dan partai itu juga yang sekarang merapat dan merengek kekuasaan. Meminta jatah menteri sebagai rekonsiliasi yang mereka artikan pembagian kekuasaan. Dan kader-kader partai itu yang dulu mencaci maki Jokowi, sekarang mencaci teman-teman mereka yang dulu satu koalisi.
Bagaimana dengan AHY sang pangeran?
Sama saja. Ia diam dan membiarkan kadernya dengan seenaknya menyemburkan ludahnya selama berbulan-bulan. Tidak pernah ada sedikitpun larangan darinya, bahkan saat kebohongan Ratna Sarumpaet disebar oleh anggotanya. Senyap. Dan baru tampak dirinya keluar saat Jokowi dipastikan menang. Ia mencoba menawarkan diri, "bagaimana jika saya jadi Menteri ?"
Belum lagi PAN. Perlukah kita bongkar jejak Amien Rais tokoh sentralnya yang bahkan menyebut Jokowi sebagai "Presiden bebek lumpuh" tanpa ada rasa malu ?
Dan sekarang PAN mencoba merapat pada kekuasaan, berharap dapat kursi Menteri lagi seperti periode lalu, dimana ditengah perjalanan mereka berbalik melakukan penghianatan.
"Politik itu hanya senda gurau belaka.." Mereka ketawa.
Padahal, rakyat terbelah. Saling mencaci karena tajamnya perbedaan. Sebagian pendukung mereka masuk penjara karena didorong kebencian. Belum lagi ada yang mati karena tidak menerima kekalahan. Dan para elitnya hanya tertawa menganggap bahwa politik itu hanya permainan.
Bangsat memang.
Tapi entah kenapa saya tidak kaget. Rasa malu karena berbalik arah sudah pasti tidak ada. Bagaimana mungkin mereka punya rasa malu pada dunia, jika mereka tidak punya rasa malu saat menyeret-nyeret Tuhan dalam syahwat politiknya ??
Raja Juli Antoni baru sekarang menemukan realita politik negeri ini yang telanjang dan bentuk tubuhnya ternyata tidak karuan.
Tetapi mau bagaimana lagi? Dalam sistem demokrasi di Indonesia, lebih baik punya kawan daripada punya lawan. Karena jika lawan terlalu banyak, mereka pasti akan menjegal banyak kebijakan. Dan akibatnya bisa fatal, banyak program tidak berjalan.
Saya tidak akan sekuat Raja Juli Antoni berada di dalam. Lebih enak seruput kopi di warung kopi bersama tukang becak, supir angkot dan para pengangguran. Setidaknya, dari mereka saya belajar bertahan hidup supaya tidak berubah menjadi binatang.

Artikel Terpopuler