Selasa, 13 Agustus 2019

ENZO ALLIE & RADIKALISME DI TUBUH TNI

Enzo Allie
Enzo
DennySiregar.id, Jakarta - Saya senang membaca riuh rendah para pendukung khilafah waktu TNI menetapkan Enzo Allie tetap menjadi taruna di Akademi Militer.
Ada perasaan menang ketika mereka merasa "salah seorang dari mereka" ternyata berhasil masuk ke lingkaran TNI. Ada rasa kebanggaan disana yang dituangkan dalam status dan gema takbir di komen-komen mereka.
Kayaknya itu memang sudah menjadi kebiasaan mereka yaitu selalu merasa menang, padahal sejatinya selalu kalah. Kelak ketika mereka sadar mereka juga mulai memaki-maki.
Enzo Allie yang dianggap bagian dari kelompok radikal karena jejak digitalnya sedang membawa bendera hitam, sudah masuk dalam lingkup pelatihan militer yang sangat keras. Bukan hanya keras dalam pelatihan fisik, tetapi sudah pasti pendalaman ideologi.
Pola pikirnya yang masih gamang terhadap khilafah akan dihancurkan dan disusun ulang untuk mencintai negeri. TNI kali ini tidak main-main, apalagi mereka sudah sadar bahwa 3 persen dari anggota mereka dikabarkan sudah terpapar radikalisme.
Sejak awal saya sudah menulis, bahwa radikalisme ditubuh TNI bukan terjadi saat mereka masih menjadi taruna. Ketika menjadi taruna, ideologi mereka sudah pasti NKRI karena itu merupakan syarat saat perekrutan.
Justru radikalisme di tubuh TNI masuk saat mereka sudah menjadi anggota dan bahkan sudah punya pangkat.
Darimana virus itu mereka dapatkan? Dari terbukanya ruang pendidikan agama yang didapatkan anggota TNI di pengajian, di ceramah dan di para "ustad" yang datang mengajarkan agama padahal dia agen khilafah.
Dan kita tidak bisa menyalahkan TNI ketika paparan radikalisme itu sudah masuk ke mereka.
Bayangkan, dulu siapa yang bisa menolak ketika datang seorang "ustad" yang memberikan siraman rohani ? Pasti disambut baik, karena toh agama itu baik. Tidak sadar bahwa ternyata diantara para "ustad" itu ada yang agen khilafah.
Disanalah proses terjadinya paparan virus radikalisme, bukan disaat mereka menjadi taruna.
Dan semakin tinggi pangkat mereka, ketika bersentuhan dengan politik, para anggota yang sudah mendapat pendidikan khusus ini sangat mungkin berfikir bahwa kelompok radikal bisa mereka jadikan kuda tunggangan untuk masa depan yang lebih cerah.
Jadi jangan kaget ketika kita melihat video lama mantan Jenderal yang bicara tentang khilafah. Bisa saja ia bukan terpapar radikal, tetapi memanfaatkan kelompok radikal untuk kepentingan politik mereka.
Dan saat ini TNI sedang bersih-bersih di dalam tubuhnya, termasuk ruang ruang ceramah agama. Bisa dibayangkan jika terhadap anggotanya saja mereka bersih-bersih, apalagi terhadap taruna yang baru masuk pendidikan.
Sejatinya, mempertahankan Enzo Allie tetap dalam tubuh TNI adalah sebuah kemenangan. Dengan begitu, Enzo yang masih remaja lebih mudah dibentuk ideologinya. Dan pendukung khilafah jadi gigit jari karena salah satu calon terbaik mereka, tidak bisa mereka pengaruhi lagi
Empat tahun pendidikan bukan waktu sebentar. Dan selama 4 tahun itu, dunia luar para taruna akan dibatasi. Mereka hanya tahunya mengabdi pada negeri, dan ideologi ini terus menerus ditanamkan pada benak Enzo Allie sampai ia akhirnya paham bahwa ia pernah berbuat salah ketika menjadi pengusung khilafah.
"Keep your friend close and your enemy closer.." adalah strategi perang terdahsyat yang pernah ditemukan seorang Jenderal perang terhebat pada masanya.
Perang itu pakai strategi, bukan pake emosi. Itulah kenapa saya suka minum kopi. Jadi tidak baperan dan sibuk teriak sana sini.
Kalau baperan, mending minum tuak aja lagi..

Artikel Terpopuler