Minggu, 04 Agustus 2019

SAMA BABI TAKUT, SAMA BUKU CEMBERUT

Brigade Muslim Indonesia
Brigade Muslim Indonesia
DennySiregar.id, Jakarta - Entah ada apa dengan Makassar. Mendadak ormas-ormas berbaju agama merasa menjadi polisi syariat dengan menyambangi toko-toko yang tidak sesuai dengan pandangan mereka.
Sebelumnya viral waktu restoran yang menjual daging babi, dipaksa tutup. Yang menutup adalah mereka yang menamakan diri sebagai Aliansi Penjaga Moral Makassar. Kalau lihat dari nama ormasnya, tentu mereka beralasan kalau penutupan itu atas nama "moral". Entah moral siapa dan dari sudut pandang mana..
Setelah berhasil menutup restoran babi, kembali salah satu ormas dengan judul "Brigade Muslim" menyisir buku yang mereka anggap terlarang dan berhaluan marxisme dan komunisme. Gak tanggung-tanggung, mereka menyita buku di salah satu jaringan toko buku besar Gramedia.
Dan hebatnya, ormas-ormas ini berhasil melakukan aksinya tanpa perlawanan sedikitpun.
Tanpa perlawanan? Ya, jelas. Pihak pengelola Mall tempat mereka menutup restoran babi pasrah, pihak Gramedia Makassar juga pasrah. Ya, daripada ribut, biarin aja lah..
Inilah yang mengherankan. Disaat gencar-gencarnya perang terhadap radikalisme, sama sekali tidak ada perlawanan dari masyarakat untuk sekadar melaporkan tindakan yang tidak menyenangkan itu ke polisi.
Para pemilik usaha seperti takut akan kelangsungan bisnisnya kalau nanti jadi rame. Akhirnya mereka membiarkan tindakan ormas yang semena-mena.
Itulah permasalahan terbesar kita. Ketika kaum yang menamakan diri mereka silent majority, bukannya bangkit dan memanfaatkan hukum untuk melawan mereka. Tetapi malah diam dan pasrah, sehingga kelompok seperti itu malah semakin menjadi-jadi.
Kenapa tidak lapor ke polisi ? Apa takut polisi malah berpihak pada mereka?
Ini harus menjadi PR besar polisi Republik Indonesia bagaimana bisa menjamin keamanan orang untuk berusaha, atau mereka yang selalu ditindas atas nama agama.
Pengalaman saya, jika kita takut menghadapi kelompok seperti itu, mereka bukannya bersimpati tetapi justru semakin ganas dan sewenang-wenang. Kesuksesan satu akan dijadikan jalan untuk meraih kesuksesan berikutnya. Dan tanpa sadar, mereka sudah membesar dan memakan semua yang mereka lihat.
Pemberantasan radikalisme di negeri ini banyak yang masih sekadar retorika. Tapi dalam kenyataannya, ormas-ormas itu semakin berani karena tidak ada tindakan hukum pada mereka.
Pemberantasan radikalisme itu harus dimulai dari kepolisian. Berikan jaminan keamanan kepada mereka yang merasa ditindas, dengan menyebarkan nomor khusus yang bisa dihubungi sehingga orang tidak takut melapor lagi.
Dan ketika ada yang melapor, lindungi mereka, jangan malah kompromi dengan kelompok yang merasa menjadi polisi kedua di negeri ini.
Disini kewibawaan aparat dipertaruhkan. Ormas seperti itu, dikasih kaki minta tangan, dikasi tangan minta kepala. Dan kelak mereka akan minta nyawa.
Kalau kita tidak melawan sekarang, percayalah, Indonesia kelak hanya akan tinggal nama.
Seruput kopinya.

Artikel Terpopuler