Selasa, 10 September 2019

PB Djarum Jangan Berhenti

PB Djarum
PB Djarum
DennySiregar.id, Jakarta - Beberapa minggu lalu saya diundang Budi Hartono ke kantornya..
Salah satu orang terkaya di Indonesia ini dengan aset mencapai hampir 500 triliun rupiah ingin ngobrol tentang masalah radikalisme di negeri ini. Sesampai disana, ada Bambang Hartono abangnya, ada Victor Hartono anaknya dan keluarga termasuk jajaran direksinya.
Sungguh humble. Saya yang bukan siapa-siapa ini dihormati sedemikian rupa. Saya sampai tidak bisa berkata-kata. Sungguh. Saya bukan apa-apa dibandingkan mereka.
Saya diminta berbicara tentang banyak hal, sesuai apa yang saya tahu. Mereka sungguh pendengar yang baik meski saya bukan pembicara yang baik.
Sampai pada satu titik, saya diminta menjelaskan apa yang harus dilakukan.
Saya bercerita banyak tentang masa kecil saya yang begitu kaya dengan acara televisi yang berbicara tentang perbedaan dan kekayaan negeri ini. Mulai dari cerita Unyil, iklan Acong-Joko dan Sitorus sampai Ria Jenaka, semua mengajari saya sampai saya menjadi seperti ini.
Tapi anak-anak saya kehilangan itu semua. Dan saya salahkan juga PT Djarum karena ikut berkontribusi terhadap kekeringan pesan pada generasi sekarang.
"Bapak dan perusahaan-perusahaan bapak ikut bertanggungjawab terhadap hilangnya pesan itu. Seharusnya grup Djarum menjadi pioneer dalam mengangkat iklan-iklan yang membawa pesan keragaman, perbedaan dan mengajari budi pekerti.
Jangan abai. Karena jika kita tidak berjuang sekarang, kelak akan muncul generasi yang lebih ganas. Mereka adalah generasi yang tumbuh tanpa akar diri mereka dan doktrin bangsa lain akan masuk dan menguasai pemikiran mereka.." Jelas saya berapi-api.
Mereka terdiam. Pak Budi Hartono terdiam. Semua ruangan hening. Entah apa yang mereka pikirkan, saya tidak perduli. Yang penting saya sudah menyampaikan apa yang harus disampaikan.
Saya pulang dan berharap pertemuan itu memunculkan sebuah kesan, bahwa kita harus memulai untuk memenuhi ruang-ruang media dengan pesan kebangsaan. Ruang media yang selama ini dikuasai oleh kelompok radikal.
Sampai akhirnya saya mendengar bahwa PB Djarum mundur dari pembinaan pelatihan bulutangkis anak-anak karena bermasalah dengan KPAI.
Melalui surat terbuka ini, saya berharap pak Budi Hartono, pak Bambang Hartono dan seluruh keluarganya yang saya hormati, tahanlah emosi untuk mundur dari tugas mulia itu.
Sudah 50 tahun PB Djarum bekerja dan jangan berhenti hanya karena sedikit gangguan saja. Jika PB Djarum berhenti, maka kita akan kembali menjadi manusia egois yang tidak perduli terhadap masa depan anak-anak kita.
Anak-anak saya kelak tidak punya role model, kebanggaan akan bangsa dan negaranya karena tidak ada lagi yang bisa dia teriakkan di even olahraga Internasional. Hanya prestasi olahraga yang bisa membuat kita lupa akan banyaknya masalah.
Jika itu saja mati, terus apa kelak yang akan mereka banggakan nanti ??
Jika mereka kosong dari inspirasi, mereka akan mencari jati diri lewat apapun yang mendekati. Begitulah konsep radikalisme terbentuk, karena kita kehilangan kebanggaan akan siapa diri kita ini.
Pak Budi Hartono dan keluarga yang terhormat, semoga bisa duduk bersama menyelesaikan masalah remeh ini. Ada yang lebih besar yang harus kita perjuangkan sekarang ini.
Demi anak-anak kita. Demi cucu-cucu bapak. Demi bangsa ini.
Terimakasih untuk semua pengabdian selama puluhan tahun dalam Bulutangkis kita. Dan semoga apa yang sudah dilakukan bisa diteruskan, bukan buat Djarum, tetapi sebagai sebuah pengabdian kepada Tuhan..
Salam hormat dan izinkan saya hidangkan secangkir kopi.
Semoga pesan ini sampai dan bisa mengetuk hati.

Artikel Terpopuler