Selasa, 08 Oktober 2019

HARI INI NINOY, ENTAH BESOK SIAPA

Teroris ISIS
Teroris ISIS
DennySiregar.id, Jakarta - Belasan orang dieksekusi. Tangan mereka diikat ke belakang dan kepala mereka satu persatu dihunjam timah panas. Ada juga yang digorok lehernya.
Kejadian ini dilakukan di sekitar masjid di Raqqa, Suriah oleh kelompok Islamic State atau ISIS. Korban adalah warga sekitar yang tak berdosa, yang diambil secara acak karena dianggap tidak mau berbaiat. Ada juga yang karena kesalahan sepele dianggap menyinggung anggota mereka.
Mayat-mayat mereka dikumpulkan di halaman masjid dan divideokan dengan narasi bahwa inilah korban Presiden Suriah Bashar Assad. Video itu kemudian diupload ke Youtube untuk memperbesar kebencian pada pemerintahan yang sah.
Membaca apa yang terjadi pada Ninoy S Karundeng, pegiat medsos sekaligus pendukung Jokowi, saya bergidik. Teringat sekian tahun lalu saat ISIS masih berkuasa di Suriah.
Ninoy dipersekusi, dipukuli habis-habisan bahkan oleh ibu-ibu pengajian disana.
Belum selesai, datang seseorang yang dipanggil "habib" kemudian berbicara untuk membunuh Ninoy dengan kapak. Mayat Ninoy rencananya akan diangkut oleh ambulans dan dibuang ditengah-tengah kerumunan demonstran. Narasi yang dipersiapkan apalagi kalau bukan korban kekerasan polisi.
Untung ambulans tidak datang. Rencana itu gagal karena tidak terpikir bagaimana nanti mengangkut mayatnya.
Semua pembicaraan dan rencana itu dilakukan dalam sebuah masjid. Tempat yang seharusnya menjadi tempat ibadah yang tenang dan khusuk. Ninoy juga muslim, sama seperti mereka. Sama-sama shalat, sama-sama puasa. Bedanya adalah Ninoy pendukung Jokowi, sedangkan mereka adalah pembencinya.
Pihak Dewan Keluarga Masjid DKM tempat Ninoy dianiaya buru-buru membantah. Mereka bilang "menyelamatkan" Ninoy dari amukan massa. Sebuah cerita yang tidak masuk akal, karena Ninoy disiksa di dalam masjid berjam-jam, bahkan tidak ada seorangpun yang tergerak untuk menelpon polisi.
Sadis dan barbar. Itulah yang ada dalam pikiran kita semua membaca kisah penculikan dan penganiayaan Ninoy S Karundeng itu. Pola-pola ISIS itu dikembangkan disini, di sebuah masjid di ibukota Indonesia bernama Jakarta.
Ini sudah bukan lagi intimidasi dan persekusi. Ini sudah mengarah ke potensi pembunuhan berencana. Sebuah aksi terorisme untuk menimbulkan dampak ketakutan dan kepanikan dengan mengorbankan nyawa.
Dan dari para pelaku yang ditangkap termasuk menjadi saksi, kita mengenalnya dengan nama organisasi yang selama ini mereka kibarkan, yaitu FPI dan PA 212. Mereka mereka lagi. Para preman yang bersembunyi dibalik jubah agama. ISIS juga begitu. Sembunyi dibalik jubah agama supaya tampak sedang berjuang di jalan yang suci.
Dan mereka tidak berada jauh disana, di Suriah. Tapi ada di halaman rumah kita sendiri. Menjadi tetangga bahkan mungkin karyawan di pabrik kelompok yang mereka benci.
Sekarang Ninoy. Entah besok siapa. Mungkin anda. Mungkin saya. Mungkin anak kita.
Tanpa gerakan sosial untuk membubarkan kelompok mereka, menghukum seberat-beratnya para pengancam yang ingin menghilangkan nyawa manusia dan tanpa pernah dilabeli sebagai organisasi teroris, mereka akan tetap ada.
Dan tetap mereka merasa tidak bersalah. Terus berkelit seolah-olah tangan mereka bersih dari darah.
Hari ini Ninoy. Entah besok siapa. Apakah menunggu negeri ini dikuasai mereka seperti yang pernah terjadi di Suriah?
Mau seruput kopi, tetapi gigi ini gemeletuk. Geram rasanya..

Artikel Terpopuler