Jumat, 04 Oktober 2019

TEMPO: PERLU DIBACA KALAU ENAK

Buzzer
Cover Majalah
DennySiregar.id, Jakarta - Entah sudah keberapa kali majalah Tempo menulis tentang "Buzzer".
Buzzer atau bahasa Indonesianya disebut pendengung ini adalah sebuah kegiatan aktivitas di media sosial yang banyak menyuarakan "apa yang mereka pikirkan" lewat akun-akun mereka.
Ada juga akun-akun robot yang memang kegiatannya hanya memviralkan tagar supaya trending di media sosial.
Saya dulu adalah pembaca Tempo yang bisa dibilang fanatik. Ini warisan dari almarhum ayah yang senang mengkliping majalah Tempo setiap akhir tahun. Membaca Tempo itu asyik, tulisannya bertutur dan memang enak dibaca.
Tapi semakin kesini, bagi saya Tempo semakin kehilangan ke"Tempo"annya.
Berita di Tempo cenderung tendensius, ketara sekali unsur pesanannya dan tidak objektif lagi dalam membicarakan masalah. Sehingga ketika membaca Tempo, saya seperti bukan membaca sebuah majalah, tetapi tabloid dari sebuah organisasi tertentu yang sedang berkampanye dan ingin merusak citra lawannya.
Bagi saya, jurnalistik itu adalah seni. Jurnalistik bukan saja kemampuan menggali, mencari kepingan berita, tetapi juga mampu menuangkannya dengan gaya yang enak dilahap dengan enaknya, pada waktu sore hari sambil ngopi dengan camilan singkong goreng tipis-tipis.
Tempo pernah menyajikan itu di tahun 80-90an, saat idealisme jurnalismenya masih tinggi. Sekarang, anak-anak baru di Tempo menjadikan majalah ini sebagai sudut penuh sampah dengan berita-berita yang miring ke kiri.
Contoh saja masalah Taliban di KPK..
Tempo tidak pernah mencoba mendalami kebenaran isu adanya Taliban di KPK dengan laporan mereka yang biasanya dalam dan tajam. Tempo malah menjadi seperti "jubir tidak resmi" KPK dan sibuk menepis isu-isu yang ada.
Seorang yang pernah ada di KPK ketawa ketika saya bertanya tentang ini, "Ah, mereka berdua punya hubungan simbiosis mutualisma..". Yah, akhirnya saya paham ketika antara teman seiring sejalan tidak mau saling sikut-sikutan karena jadi tidak menguntungkan.
Dan karena sibuk menjadi juru bicara, Tempo yang biasanya menjadi lokomotif dalam membongkar sesuatu yang mencurigakan, malah jadi seperti gerbong yang tertinggal di belakang. Media sosial lah yang akhirnya menjadi garda terdepan dalam menguliti apa yang terjadi.
Dalam masa senjanya, Tempo akhirnya ngamuk karena kejumawaannya yang selalu dibanggakan dengan slogan "enak dibaca dan perlu", dirontokkan di depan mata pembacanya. Orang beralih ke media sosial yang mampu menawarkan sudut pandang berbeda dalam sebuah masalah.
Marahnya Tempo mirip seperti orang tua dulu yang selalu mengambil ikat pinggang untuk melibas anaknya. Lalu dilibaskanlah sabuk itu dengan tudingan "buzzer, buzzer" dengan membabi buta.
Beda dengan orang tua sekarang yang lebih merangkul dan mengajak anaknya bersahabat dan bertukar pikiran.
Apa yang terjadi? Tempo menjadi bahan tertawaan di media sosial. Ratingnya dianjlokkan dalam waktu 3 hari saja jadi bintang 1 doang. Sahamnya pun sempat berantakan dan dengan ngos-ngosan berusaha dipulihkan.
Pada akhirnya, Tempo lebih sibuk mengurusi tentang "buzzer" daripada menghadirkan berita yang lebih bermutu dan membuatnya enak dibaca. Seperti misalnya tentang agenda memecah belah Papua lewat peristiwa Wamena.
Tempo lebih sibuk menyerang, seperti orang tua yang semakin kekanak-kanakan. Dan si anak pun dengan senang berlompatan seperti menggoda dengan gayanya yang bebas dan merdeka.
Entah begitu pentingnya "buzzer" bagi Tempo sampai mereka tidak sadar, pembacanya yang dari kalangan berpendidikan tidak butuh itu. Seperti seorang teman yang kerja dibidang finansial bicara, "Mau buzzer kek, mau ngga kek, apa perdulinya dibahas sampe segitu?"
Yah, orang bilang di dunia ini semua berubah. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri.
Tempo dulu memang "enak dibaca dan perlu". Tapi sekarang "perlu dibaca kalau enak". Sayangnya, banyak gak enaknya.
Jadi ya, dibaca seperlunya dan seenaknya..
Seruput kopi dulu ah. Mana singkong tipisnya?

Artikel Terpopuler