Sabtu, 30 November 2019

DOKTER ERROR, NEGARA TEKOR

Dokter Terawan
Menkes
Jakarta - Disebuah rumah sakit terkenal, saya memeriksakan anak yang katanya didalam hidungnya sakit..
Seorang dokter lelaki muda sesudah meriksa dengan biaya periksa yang lumayan bikin kantung perih berkata, "Dia kena penyakit X. Harus dibedah hidungnya.."
Kaget? Pasti. Siapa sih orangtua yang tidak shock melihat anaknya yang masih kecil harus berhadapan dengan meja operasi. "Kira-kira berapa dok biayanya ?" Tanyaku agak gemetar. Rumah sakit ini terkenal dan pasti mahal. "Sekian puluh juta. Ada asuransi?" Tanyanya.
Ouch. Benar dugaanku. Dan aku pamit pulang. Sebagai kepala rumah tangga, mumet pun datang. Kebayang repotnya mengurus ini itu. Belum lagi waktu terbuang karena pasti nginap beberapa hari disana. Anak kecil gak bisa ditinggal.
Iseng telepon seorang teman yang dokter di rumah sakit pemerintah yang terkenal murah. Dia bilang, "Coba ke dokter ini. Dia dokter di RS ini juga. Praktek rumahnya di alamat ini.."
Aku ikuti kata temanku. Aku butuh second opinion, atau pendapat dokter kedua.
Sesudah ngantri agak lama, akhirnya giliran kami masuk ke ruang dokter yang sudah senior. Sederhana sekali ruangannya, beda dgn ruangan dokter muda di RS terkenal itu. Proses pendaftarannya pun masih manual, pake kartu warna warni dengan suster yang juga sudah berusia 60-an.
"Ah, ini sih biasa. Anak kecil rentan kalau kena debu. Infeksi biasa. Kasih obat ini aja.." Kata dokter senior itu. Biaya periksa 75 rebu rupiah dan obatnya sesudah kutebus sekitar 200rebu rupiah kurang sedikit.
Dan benar, besoknya sudah ada perubahan. Dua hari kemudian anakku sembuh. Untung tidak jadi operasi yang makan biaya puluhan juta rupiah itu.
Kalau gak ada duit, memang manusia cenderung kreatif. Beda kalau ada fasilitas sekarang seperti BPJS, yang pasien cenderung ngangguk aja apa kata dokter. Dan dokternya senang main bedah-bedahan, karena bayarannnya lumayan.
Modus dokter beginilah yang disoroti dokter Terawan, Menteri Kesehatan. Dokter sekarang banyak main operasi supaya dapat uang banyak.
Untuk operasi sesar saja, kata Dokter Terawan, BPJS menanggung 260 triliun rupiah. Sedangkan untuk operasi jantung, tahun 2018 beban biaya 10 triliun rupiah.
Jadi, gimana BPJS gak tekor??
BPJS dibangun sebagai konsep gotong royong supaya yang tidak mampu bisa disubsidi yang mampu. Tapi itu tidak akan berguna jika dokternya tetap mata duitan.
Mungkin banyak dokter yang lupa, bahwa profesi ini adalah profesi pengabdian, bukan profesi mencari uang. Bayaran terbesarnya adalah pahala, bukan material. Kalau pengen kaya, kenapa gak jadi pengusaha saja?
Saya kebayang dokter-dokter senior yang mengabdikan dirinya, ada yang mengobati di perahu, ada yang cuman bayar 10 ribu rupiah saja. Mereka tampak miskin di dunia, sesungguhnya mereka adalah orang yang kaya kelak di akhir masa.
Sungguh, sulit negeri ini akan maju, jika orang pintar belum bisa mengubah cara berfikirnya..
Seruput kopi dulu, ah...

Artikel Terpopuler