Minggu, 22 Desember 2019

DAN NABI PUN MENANGIS

Natal
Berita Larangan Natal
Jakarta - Pada tahun 628M, seorang utusan datang kepada Nabi Muhammad Saw di Najran.
Utusan ini membawa surat minta perlindungan kepada Nabi terhadap gereja mereka, St Catherine Monastery dan semua biarawan didalamnya. Alkisah, gereja itu selalu diganggu oleh mereka yang beragama muslim disana.
Dan dengan tegas, Nabi Muhammad Saw menulis maklumat kepada seluruh masyarakat disana, bahwa umat Kristen yang berada diwilayahnya, mendapat perlindungan khusus dari beliau.
Nabi juga secara khusus menyatakan melindungi kegiatan dan tempat ibadah umat Kristen. Dan menjadi tameng terhadap siapapun yang melakukan perbuatan tidak menyenangkan kepada mereka. Jelas dan tegas, dan tidak ada seorangpun penduduk disana yang berani melawan keputusan Nabi.
Umat Kristen pun melaksanakan semua kegiatan rohani mereka dengan tenang dan terjalin persaudaraan antar agama tanpa paksaan.
Surat perintah Nabi Muhammad Saw itu sekarang ada di Museum Topkapi, Istanbul Turki. Disimpan sebagai sebuah bukti dan seharusnya menjadi hukum yang ditaati pengikutnya.
Tapi pada masa sekarang, khususnya di Indonesia, sebagian umat Muhammad Saw malah sibuk mempersekusi mereka yang berbeda keyakinan. Mirip dengan penduduk Najran yang mengganggu biara St Catherine sebelum ada perintah Nabi.
Bahkan di Dharmasraya Sumbar, dengan alasan sudah ada perjanjian, umat Kristen disana dilarang melakukan perayaan Natal bersama-sama. Dan Menteri Agama, Bupati, bahkan kepolisian mengaminkan perjanjian itu tanpa ada usaha keras supaya umat Kristen disana bisa melakukan perayaan dihari besar mereka.
Seharusnya Menteri Agama, Bupati dan pihak Kepolisian mengikuti apa yang sudah dilakukan Nabi Muhammad Saw. Bahwa semua orang berhak menjalankan ibadahnya tanpa tekanan dan intimidasi, meski itu berbentuk surat perjanjian.
Kalau bukan pemerintah yang melindungi, terus siapa lagi? Disini terlihat lemahnya aparat terhadap situasi yang terjadi. Padahal umat Kristen disana sudah mengirimkan pemberitahuan bahwa mereka terintimidasi meski sudah ada perjanjian.
Saya membayangkan Nabi Muhammad Saw menangis, melihat umatnya yang satu bangga sudah berhasil mengintimidasi umat lain, dan satunya lagi lemah memberi perlindungan pada umat lain.
Padahal kedua-duanya sibuk bicara "sunnah", mengikuti apa yang dikatakan dan dilakukan Nabi. Sunnah mana yang sudah mereka lakukan? Tidak satupun. Mereka hanya mengatasnamakan Nabi, tapi perbuatan mereka menyelisihi.
Mau sembunyi rasanya karena rasa malu. Ternyata konsep "mayoritas" hanya ada di mulut saja, tapi sama sekali tak ada gunanya. Pemerintah dan aparat terlalu memberi angin dan tak berdaya menghadapi kelompok yang merasa benar sendiri.
Kelak umat Kristen yang tertindas akan menghadap Nabi dan mengadukan perlakuan umatnya terhadap mereka.
"Sesungguhnya saya membela mereka karena orang-orang Kristen adalah penduduk saya, dan karena ALLAH ! Jika ada yang mengganggu mereka, maka dia merusak perjanjian Allah dengan tidak menaati RasulNya.." Begitu sebagian isi surat Nabi Muhammad Saw.
Ah, berat rasanya mengaku "muslim" jika harus sesuai dengan definisinya. Karena muslim berarti pasrah kepada Tuhan dengan menaati RasulNya, bukan aksesoris belaka.
Tanyakan pada diri kalian sendiri, benarkah kalian sesungguhnya muslim atau hanya klaim dimulut saja?
Mari merenung sambil seruput kopinya.

Artikel Terpopuler