Jumat, 13 Desember 2019

NEGERI PARA KADRUN

Nadiem Makarim
Nadiem Makarim
Jakarta - Ternyata saya senang sekali dengan sejarah.. Saya belajar agama dengan membaca sejarah. Belajar kehidupan dengan mengetahui sejarah. Belajar apapun selalu ada nilai sejarah.
Terus, kenapa dulu saya benci sekali pelajaran sejarah di SD, SMP sampe SMA??
Karena saya dipaksa menghapal. Saya harus hapal tanggal lahir seorang pahlawan yang saya juga gak kenal dia siapa. Kenal aja ngga, apalagi tanggal lahirnya. Belum tanggal kapan beliau perang ma Belanda sampe tanggal gugurnya.
Otak dijejali dengan angka, tanggal-tanggal gak berguna. Sampai nilai dari sejarahnya itu sendiri hilang gak berbekas.
Padahal seandainya si guru pandai bercerita, tentu sejarah itu akan membekas. Dan kita belajar dari sejarah supaya kehidupan lebih baik kedepannya. Sejarah itu punya nilai pelajaran yang tinggi, mulai dari kehormatan, komitmen sampai kelicikan, kekuasaan dan ketamakan ada disana.
Tapi bagi guru dulu, yang penting adalah "Tanggal berapa Wiro Sableng bertemu Sito Gendeng??" Who cares!!
Entah gurunya yang malas sehingga dia sendiri tidak paham nilai sejarah, atau memang kurikulumnya begitu? Semua harus ada angka, karena angka penting untuk penilaian.
Saya selalu iri dengan anak-anak di negara maju, yang kalau diwawancarai stasiun televisi mereka bisa lancar bercerita bahkan kadang bahasanya seperti orang dewasa.
Coba anak kita diwawancarai, pasti gagap, bingung, takut dan malu-malu. Jangankan bercerita, tampil aja mikir-mikir dulu. Kecuali anaknya artis yang suka pamer rumah sama saldo ATM di Bank. Sejak kecil memang sudah dijual ortunya untuk penghasilan, dipaksa untuk tampil di depan.
Dan ketika Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan sekaligus bos perusahaan besar GoJek, bilang bahwa "Maaf, dunia tidak perlu anak-anak yang pandai menghafal.." langsung pada kebakaran jenggot. Saya setuju sekali.
Sampai sekarang saya tidak ingat kapan tanggal Indonesia perang dengan Singapura, tapi saya paham ceritanya, tentang 2 orang marinir yang gugur bernama Usma dan Harun di Singapura.
Konsep pendidikan kita harus benar-benar diubah. Kalau tidak, kita punya banyak penghafal tapi gak kepake di dunia kerja. Kalaupun kerja, cuman jadi robot di perusahaan besar saja.
Saya sendiri sudah lama paham, kenapa banyak orang Islam belajar agama jadi KADRUN? Karena mereka dipaksa belajar dengan menghafal ayat-ayat saja. Dan kalau hafal, dapat penghargaan sampe gratis masuk sekolah.
Tanyakan pada mereka makna dan konteks ayat-ayat itu, pasti bengong. Soalnya di otak mereka cuma hafalan surat sekian ayat sekian. Itulah kenapa masih banyak orang yang sibuk belajar memanah dan berkuda karena sunnah katanya, tanpa memahami bahwa perintah itu ada di jaman apa dan kenapa.
Jangan sampe nanti anak saya kelak ditanya gurunya, "Jokowi lahir tanggal berapa??" sampe tidak pernah mampu bercerita gambaran besar visinya untuk Indonesia.
So, Nadiem Makarim.. Tolong ubah konsep-konsep jadul itu, dan tawarkan konsep generasi digital yang out of the box. Karena tidak akan pernah ada perubahan, kalau kita selalu pakai cara yang sama.. Seruput kopinya.

Artikel Terpopuler