Rabu, 18 November 2020

Bohir Kumis dan Imam Jumbo

212
Jakarta, DennySiregar.id - Anies ini memang gak bisa kerja. Teori sih oke, tapi eksekusi no way. Pantaslah waktu dia jadi Menteri, Pak Joko pusing kepala. Banyak banget alasannya kalo ditanya, muter-muter lagi jawabannya. Kalau ngomong kayak orang iyes, pas di lapangan semua gak beres.

Karena tidak ada prestasi, maka mulailah cari sensasi. Ketika hasil survey bicara dan ratingnya jauh di bawah rata-rata, mulailah bohirnya gerah. Lalu dijemputlah si trouble maker dari Arab sana. Hanya dialah yang bisa menggerakkan massa untuk menaikkan nama.

Kang bohir kumis dan si jumbo tahu, aparat enggan berbenturan dengan massa, karena mereka diperintah untuk menjaga situasi supaya kondusif. Kalau massa dihalangi takutnya ada keributan. Kalau terjadi keributan, jabatan mereka bisa hilang.

Maka bebaslah si jumbo meledek-ledek aparat, karena tau lemahnya mereka. Anies pun memanfaatkan situasi, langsung silaturahmi sekaligus menjaga suara tetap ada. Pada titik ini Anies dan bohir senang. "Asyik, punya mainan.." pikir mereka.

Pak Joko marah. Dia lagi sibuk ngurusi pandemi yang bikin sakit kepala, sekaligus memikirkan bagaimana menciptakan jutaan lapangan kerja. Eh, ini malah di Jakarta rame-rame.

"Ada apa?" Tanyanya. "Suruh Gaberner selesaikan masalah di daerahnya. Masak gitu aja gak bisa? Trus, kerjanya jadi Gaberner apa??".

Tapi situasi bukannya selesai, si Jumbo malah makin menjadi, bikin pesta besar yang ngumpulin orang banyak sekali. Ini sudah keterlaluan, kata pak Joko. Dikumpulkanlah Komandan aparat dalam kondisi marah besar, "Kalau gak bisa kerja, apa harus saya ganti saja?".

Maka sibuklah aparat. Jajaran internal dirombak habis, ganti dengan yang lebih berani dan tegas. Kali ini perintah dari atas jelas dan tegas, "Gak penting ada kerusuhan, siapapun yang bikin keributan hajar!".

Dapat lampu hijau, mulailah aparat bergerak. Spanduk-spanduk dicabuti. Kepala daerah dipanggil untuk klarifikasi. Kalau ditemukan unsur kesengajaan, Mendagri siap mencopot jabatan.

Kadrunista semua tiarap. Imam jumbo langsung pura-pura sakit keras. Ada aja triknya. Kayak anak kecil, kalau bapaknya marah langsung berselimut di kasur manja supaya tidak kena pasal.

Padahal kemarin dengan gagah teriak-teriak "penggal !". Eh, pas dicariin beneran sembunyi sambil nyengir, "Hehe maksudnya itu sandal. Cuman kecepetan ngomong jadi penggal.." Halahh.

Dari sini kita belajar, urusan daerah salahkan pada pemerintah daerah. Jangan dikit-dikit tuding istana negara. Semua punya kerjaan masing-masing. Kan otonomi daerah. Nanti kalau diambil alih pusat, ngadu. "Woo otoriter, rezim kejam" dan segala macam. Padahal kepala daerahnya yang kerjaannya gak ada.

Begituh, sodara-sodara. Sial. Ada rokok, gada koreknya. Cari dimana ya? Seruput dulu, ah..

Artikel Terpopuler