![]() |
| Wisata Syariah |
Saya 2 tahun tinggal di Bali.
Saya rela keluar dari kerjaan
lama dan memulai kerja dari bawah lagi hanya supaya bisa tinggal di Bali.
Bali itu eksotik sekaligus
misterius. Disana terjadi pertemuan dua arus besar antara dunia modern dan
ketatnya unsur tradisional. Menariknya, kedua unsur yang sebenarnya berbeda ini
bukannya saling menolak, malah saling berkait. Di Bali begitu mudah kita menemukan
kendaraan terbaru semudah kita menemukan patung-patung yang bercerita tentang
legenda masa lalu.
Orang Bali itu aneh menurut saya.
Mereka begitu terbukanya terhadap pendatang baru, tetapi mereka bisa menjaga
adat istiadat mereka dengan sangat kuat sehingga tidak kehilangan identitas
dirinya. Bandingkan dengan Jakarta misalnya, dimana ciri masyarakat Betawi
harus dipaksa dilestarikan supaya tidak hilang tergerus arus modernisasi. Anak
muda di Bali-pun bangga dengan pakaian tradisional mereka, sebangga mereka
menyanyikan lagu-lagunya Rihanna.
Meskipun begitu, karena saya
muslim, terkadang saya harus menahan diri terhadap rasa mual melihat makanan
sejenis lawar, yang tampak seperti daging babi dan darahnya diaduk menjadi satu
dan menjadi makanan lezat bagi masyarakat Bali. Tapi lama-lama saya terbiasa
juga melihat teman saya yang asli Bali makan dengan lahapnya di samping saya.
Dengan semua kelebihan yang ada
pada Bali dan membuat saya jatuh cinta pada suasana, keluguan dan kebaikan
masyarakatnya, saya menjadi heran ketika pemerintah hendak menjadikan Bali
sebagai salah satu destinasi wisata syariah.
Pemerintah seharusnya paham,
bahwa kata "syariah" itu berarti aturan yang tunduk pada ketetapan
Tuhan dan dalam hal ini syariah identik dengan Islam. Lalu, bagaimana Bali yang
mayoritas Hindu bisa menerima begitu saja identitas agama lain disematkan
kepada mereka?
Pemerintah juga seharusnya peka,
bahwa Islam yang selama ini dikenal oleh warga Bali adalah Islam fundamentalis
yang sudah mengacak-acak periuk makan mereka dengan bom Bali 1&2. Peristiwa
yang menghancurkan tiang ekonomi mereka yang sepenuhnya bergantung pada
pariwisata. Dan menyematkan kata "syariah" memunculkan kembali trauma
mereka.
Pemerintah harus sadar bahwa Bali
tidak ingin mengganti pemandangan pantai mereka yang indah dengan gurun pasir
yang banyak onta. Bali sudah sangat cukup dengan turis Eropa, Jepang dan
Australia sehingga tidak membutuhkan turis timur tengah yang sangat pelit tapi
permintaannya banyak luar biasa.
Warga Bali juga paham bahwa
"syariah" yang dimaksud bukan meng-Islamisasi Bali, melainkan hanya
menyediakan restoran Islami, hotel Islami. Tapi kenapa mesti harus bicara
syariah? Selama ini disana kalau ingin mencari masakan muslim, cukup cari rumah
makan Jawa atau Padang. Itu sudah ciri yang melekat halal-nya, tidak usah lagi
pake label syariah-syariahan. Kalau hotel ngapain juga pake konsep syariah?
Warga Bali tidak perlu mengemis
turis, justru turis-lah yang harus beradaptasi dengan adat dan budaya mereka.
Tidak perlu dengan alasan untuk meningkatkan pendapatan dari sisi pariwisata,
Bali adalah penyumbang pendapatan pariwisata terbesar di Indonesia. Bahkan Bali
bisa lebih terkenal diluar daripada nama Indonesia.
Pemerintah harus memahami Bali
dan menghargai berapa lama mereka mempertahankan ciri khas mereka dengan
meminta gedung-gedung yang ada di Bali harus mempunyai ciri Bali, lalu untuk
apa pemerintah memaksa mereka harus bernuansa timur tengah?
Biarkan Bali dengan Bali-nya.
Selama ini mereka tenteram, damai dan orang Hindu disana sebagai mayoritas menjaga
minoritas lainnya dengan tanggung-jawab dan amanah. Jangan mereka digesek-gesekkan
sehingga keluar ego keagamaannnya.
Coba, beranikah pemerintah
memaksa warga Aceh untuk mendirikan sebuah pura disana? Wong, gereja aja
dibakar apalagi pura yang asumsi masyarakat sana adalah menyembah patung.
Biarkan semua berkembang sesuai dengan budaya yang ada tanpa harus dipaksa
mereka menerima. Pemerintah jangan karena alasan menambah devisa dari
pariwisata, tidak bertanya dulu kepada masyarakat sekitar apakah menerima atau
tidak? Jangan main paksa.
Pada waktu kerusuhan Mei 98,
berbondong-bondong warga Jakarta mengungsi ke Bali. Pada waktu kerusuhan Ambon, warga
Ambon juga banyak yang mengungsi ke Bali. Itu tandanya Bali masih
teridentifikasi sebagai tempat aman, jangan pula malah dijadikan tempat yang
tidak aman.
Begitu banyak wisata syariah yang
bisa dibangun di daerah yang sesuai, kenapa mesti memaksa Bali? Kalau yang
dimaksud wisata syariah adalah wisata reliji, bukankah selama ini Bali juga
menyediakan wisata reliji tanpa harus gembar-gembor?
Bali ya Bali, mereka tidak bisa
dipaksa menjadi Sulawesi. Nasar ya Nasar, ia tidak bisa dipaksa menjad atlet
angkat besi. Bisa aneh jadinya, ketika tangannya yang kekar dan berotot
mengacung di depan kamera sambil jarinya di kuncupkan ke atas dan berkata
dengan suara gemulai, "sini, kuremas punyamu".
