| Mekkah |
Haji adalah ibadah tertinggi
sebenarnya bagi umat Islam. Dalam berhaji, terkandung makna totalitas
kepasrahan tingkat tinggi bagi mereka yang memahaminya.
Itulah kenapa naik haji
dikategorikan "bila mampu", yang sebenarnya jika mau diperluas
artinya "mampu" bukan di ranah materi, tetapi pada makna fisik dan
spiritual.
Mampu untuk meninggalkan segala
model keduniawian dan sudah terfokus pada akhirat dalam setiap kehidupannya
ketika sudah mengunjungi "rumah Tuhan". Rumah Tuhan adalah bahasa
pendekatan, bukan rumah dalam artian sebenarnya.
Hanya, makna haji sekarang sudah
jauh bergeser dari awalnya. Haji sekarang sudah menjadi sebuah kebanggaan,
kenaikan status sosial bahkan bagi penyelenggara haji yaitu Arab Saudi yang
menguasai tempat suci umat Islam itu, haji berarti politik dan uang.
Arab Saudi menggunakan kekuasaannya
dengan memilah siapa yang boleh berhaji dan siapa yang tidak. Tahun ini sudah 3
negara yang dilarang mengirimkan jamaahnya untuk berhaji, yaitu Iran, Yaman dan
Suriah. Semua terkait politik dimana Arab Saudi mempunyai kepentingan di
dalamnya.
Sebenarnya pelarangan orang untuk
beribadah haji sudah dilakukan Saudi sejak dulu, hanya tidak secara formal.
Saudi berlindung di balik kata "kuota" atau jumlah pengunjung yang
ditentukan oleh mereka sendiri.
Tahun 2015 saja, total jumlah
jamaah haji terhitung kurang dari 1,5 juta orang. Sempitnya tempat untuk
melakukan ritual haji menjadi masalah utama.
Seperti kita tahu, sekeliling
Ka'bah sudah dipenuhi bangunan komersial mulai hotel sampai mall. Hal yang
bertolak belakang dengan konsep mereka untuk mengikuti "sunnah Nabi",
karena pada masa Nabi di sekeliling Ka'bah adalah tanah kosong yang luas dan
hanya berdiri tenda-tenda.
Karena keterbatasan kuota itulah,
maka harga berhaji semakin lama semakin tinggi. Mulai harga penginapan sampai
visa naik setinggi-tingginya karena tempat terbatas. Kalau anda miskin tapi
sudah punya niat berhaji, tunggulah 10-15 tahun untuk bisa kesana.
Mungkin anda bisa berhaji jika
sudah sampai di surga...
Jadi untuk beribadah, niat saja
tidak cukup karena anda harus siap dalam hal harta dan ketersediaan kuota.
Menyedihkan....
Meskipun tidak layak
membandingkan, tapi saya coba melihat bagian dari ibadah lain dimana umat
muslim juga berkumpul di satu tempat, yaitu waktu pelaksanaan Arbain.
Arbain adalah ziarah umat Islam
dari seluruh dunia untuk memperingati 40 harinya peristiwa pembantaian Imam
Hussain as - cucu Nabi Muhammad Saw - dan keluarganya di padang Karbala.
Berlangsung di Irak, pada tahun
lalu jamaah yang mengikuti Arbain diperkirakan berjumlah lebih dari 20 juta
orang. Tahun 2014 saja jumlah peziarah sudah mencapai 18 juta orang.
Kenapa bisa begitu banyak?
Karena tidak adanya gedung-gedung
komersial yang memadati sekitar makam Imam Husain. Disana uang tidak berlaku,
karena siapapun mencari pahala dengan adanya peziarah. Tenda tidur, makanan
sampai pijat kaki semua gratis.
Ada semacam keyakinan mengambil
berkah dari kaki-kaki mulia para peziarah yang sudah bersusah payah berjalan
kaki atau napak tilas sejauh 80 km menuju makam.
Tidak ada kuota disana. Siapapun
silahkan datang untuk berziarah. Tidak terbatas muslim, bahkan umat Kristen pun
datang dalam jumlah kecil untuk melakukan penghormatan terhadap kisah fenomenal
itu.
Begitulah yang terjadi, fakta
yang sebenarnya yang tidak mau diakui banyak umat yang mengaku muslim.
Dengan segala cara mereka membenarkan
tindakan Arab Saudi karena keyakinan bahwa Saudi adalah penjaga kunci rumah
Tuhan.
Meskipun mereka juga bingung
ketika ditanya kenapa sistem negara si penjaga rumah Tuhan itu adalah kerajaan,
sedangkan Nabi Muhammad SAW pembawa agama Islam itu sendiri tidak menetapkan
sistem kerajaan?
Jika memang Islam menggunakan
sistem kerajaan, seharusnyalah keluarga Nabi yang menjadi raja-rajanya dan
pemegang kunci rumah Tuhan, karena kerajaan menganut model keturunan..
Kecuali jika telah terjadi kudeta
sebelumnya..
Seruput ah.. Selamat Iedul Adha
semua..