Kalau melihat Amien Rais ini, saya
suka senyum dikulum. Pak Amin sejatinya kebalikan dari Ruhut Sitompul. Kalau
bang Ruhut bisa melihat siapa pemenang, pak Amin ini spesialis berada pada
posisi yang selalu kalah.
Sial buat PAN memang, yang tidak
bisa berkembang baik karena hanya mengandalkan seorang Amin Rais sebagai
motornya. Mana motornya suaranya doang yang besar dan memekakkan telinga, tapi
jalannya cuman 20 km/jam.
Sekarang saja PAN cuman punya 2
kursi di DPRD DKI, tapi seolah-olah punya dua puluhan. Muter-muter bergerak kemana-mana dari
koalisi kekeluargaan sampai mengerahkan "umat Islam" untuk melawan
Ahok. Entah apa yang dituju, wong PAN milih pemimpin saja suaranya jauh dari
cukup.
Strategi politik pak Amin ini
sebenarnya sudah ketinggalan zaman. Beliau seperti ingin kembali ke masa lalu
dimana ia diingat sebagai "lokomotif reformasi" karena melawan
Soeharto. Ia masih menganggap, siapapun yang duduk di pemerintahan -yang tidak
didukungnya- adalah rezim yang harus dilawan. Oposisi selalu benar.
Karena itu gerakannya untuk
"melawan Ahok" sebenarnya hanyalah nostalgia pribadi waktu melawan
rezim Soeharto. Kocaknya, banyak juga yang mau diajak untuk memenuhi nostalgia
pak Amin.
Ya mungkin karena ada juga yang
sama, ingin bernostalgia.
Seperti Hidayat Nur Wahid, yang
satu era dengan pak Amin. Ibarat musik, mereka tumbuh di masa penyanyi Endang S
Taurina berjaya, produksi JK Records yang sudah gak jelas masih ada atau tidak
perusahaannya. Masa kaset masih harus di rewind dengan sebatang pensil.
Sekarang beliau bisa saja bicara
mau membuat 8 ribu posko. Tapi coba liat dua minggu lagi, mungkin sudah berubah
jadi 4 ribu. Penyakit lupa memang suka menyerang mereka yang sudah berusia
lanjut, sama seperti lupanya beliau ketika bernazar jalan mau jalan kaki Jogja
- Jakarta kalau Jokowi menang pilpres.
Yang muda-muda biasanya suka
mengingatkan. Seperti Giman yang akhirnya jalan kaki sekedar untuk mengingatkan
pak Amin dari penyakit lupanya. PAN juga jengah ketika Giman menagih janji
kepada pak Amin, " Itu guyon, man.. guyon.. maklumlah.."
Tapi satu hal yang saya suka dari
pak Amin adalah semangatnya di masa tua. Di usianya yang ke 72, beliau masih
berkobar2. Sebenarnya bagus untuk kesehatan beliau, karena politik itu olahraga
otak juga untuk menghindari pikun dan stroke.
Karena itu, anggap saja kita
olahraga sama-sama dengan pak Amin dan berbaris di belakangnya sambil diiringi lagu
Senam Kesegaran Jasmani, 'Tuk wak, tuk wak... wes tuwuk, wak.."
Ingat pak Amin jadi inget
almarhum Gus Dur. " Saya jadi Presiden ini modal dengkul. Itu juga
dengkulnya Amien Rais.."
Kasian dengkulnya, pak.. Mending
seruput kopi dengan saya sambil cerita-cerita masa lalu bapak, yuk...

