![]() |
| Pandangan Hidup |
"Anggap saja kita ini baju
berwarna putih.."
Aku senang jika temanku berbicara
tentang kehidupan. Logika-logika berfikir dipaksa untuk memandang dari sudut
yang berbeda olehnya, dan -anehnya- aku tidak bisa menolak jalan pikirnya.
Sore tadi kami seperti biasa
nongkrong di warung kopi sambil bercerita tentang bagaimana memandang sesuatu
itu pada tempatnya..
"Pada waktu lahir, kita ini
seperti baju putih, bersih tanpa noda. Seiring bertambahnya usia, kita mulai
terjebak pada kenikmatan dan godaan dunia.
Dunia ini sejatinya tempat yang
kotor dan semakin kita tenggelam pada kenikmatannya, maka kotoran akan semakin
melekat di jiwa kita. Tebalnya kotoran yang melekat sebanding dengan seberapa
dalam dan lamanya kita bermain di lumpur itu.."
Ehm, analogi yang menarik.
Teruskan, kataku dalam hati sambil menyeruput kopi panas yang terhidang.
"Ada saat kita mengalani
titik balik dalam hidup kita dan kita bertobat, mohon ampun. Karena Tuhan itu
Maha penyayang, kita pasti diampuni.. " Katanya tersenyum. Aku terus
mengikuti jalan ceritanya.
"Yang banyak orang lupa
adalah bahwa Tuhan juga Maha adil. Jadi meskipun kita diampuni, kita harus
melalui tahapan pencucian sesudah sekian lama berkubang di lumpur..." Ia
menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan ceritanya.
"Nah, mesin cuci manusia
dari dosa-dosanya ada 2, yang pertama ada di alam kehidupan. Tuhan mencuci dosa
manusia melalui banyak peristiwa mulai sakit, sulit, miskin dan lain
sebagainya.
Semakin tebal lumpurnya, maka
proses menggosoknya semakin kuat dan lama. Kita pasti merasakan sakit dan
perih.
Disinilah Tuhan selalu berfirman,
"sabar dan syukuri.." Sabar itu berarti kita harus melewati prosesnya
dan syukur itu adalah berterima-kasih karena sudah dicuci di dunia dengan ujian
yang sebenarnya tidak ada artinya.."
Ah disini mulai terasa aku
merinding, teringat temanku yang sekarang berbaring karena kanker stadium
tinggi. Luar biasa, berarti sesungguhnya dia lebih mulya dariku karena sedang
dalam proses pencucian dan aku belum?
"Pencucian di dunia
sebenarnya tidak ada artinya.." Temanku melanjutkan. "Ketika baju
kita masih kotor di dunia meski sudah dicuci sedemikian kuatnya, maka ada mesin
cuci kedua, yaitu di alam kematian atau alam penantian atau kita kenal dengan
nama alam barzakh.."
Ia menyeruput kopinya. Tampak ia
mulai resah..
"Di alam barzakh, kita
"dicuci" dengan model seperti yang sering digambarkan dalam kitab2,
yaitu siksa sesuai dengan apa dosa yang pernah kita lakukan di dunia.
Banyak yang bilang, jika Tuhan
Maha penyayang masak menyiksa ? Padahal inilah wujud kasih sayang Tuhan, bahwa
kita melalui proses pencucian dosa. Tanpa itu bagaimana kita harus menghadapi
timbangan di hari pengadilan nanti ?"
Tidak mampu kubayangkan apa yang
terjadi di alam itu nanti, apalagi dengan semua maksiat yang pernah kulakukan.
"Proses pencucian di alam
barzakh sangat dahsyat, karena itu bersyukurlah ketika kamu dicuci di dunia.
Dan pada waktu kiamat, semua manusia dibangkitkan sesudah melalui proses
panjang itu menghadap timbangan di hari pengadilan. Akan ditimbang lebih berat
mana amal atau dosa kita di dunia?
Tetapi karena kita sudah melalui
proses pencucian yang dahsyat itu, tentu kita harus lega bahwa dosa kita sudah
jauh berkurang, tinggal berharap amal kita cukup untuk menyeimbangkannya.
Ketika ternyata dosa kita masih
lebih berat dari amal kita meski sudah melalui proses-proses itu, yang kita harapkan
adalah syafaat atau grasi dari para manusia suci yang sudah diturunkan ke
dunia, dalam Islam ada Nabi Muhammad SAW.
Syafaat beliau adalah kerinduan
yang besar bagi umatnya sesudah mengalami proses yang menakutkan..."
Entah kenapa cangkir kopiku
tergantung tanpa kuminum. Belum pernah kualami memandang hal itu dari sudut
pandang yang berbeda. Hanya, aku - sekali lagi - tidak mampu membantah logika
berfikirnya yang kuyakin berdasarkan petunjuk-petunjuk yang ada.
Ah, Tuhan.. semoga aku nanti
dihukum dengan Kasih SayangMu dibanding dengan keadilanMu... Karena jika tidak
ada kasih sayangMu dan yang ada hanya keadilanMu, habislah aku...
Sampai sekarang cerita itu
membekas dalam pikiranku. Sampai sekarang..
