![]() |
| Latihan Militer |
Diluar masalah prosedur yang dilanggar itu, memang aneh jika
TNI melatih anggota FPI. FPI selama ini dikenal sebagai ormas yang cenderung anarkis.
Sungguh tidak pada tempatnya TNI berlatih bersama FPI karena itu akan
menguatkan tuduhan bahwa FPI dipelihara oleh "alat negara". Dan
ketika isu itu semakin menguat, maka TNI akan kehilangan kepercayaan dari
masyarakat.
Sejak aksi 411 dan 212, beberapa ormas begitu jumawanya
berkoar bahwa mereka adalah kesatuan yang kuat. Angka "7 juta
manusia" yang sangat tidak masuk akal memenuhi Monas dan sekitarnya,
adalah bagian dari menumbuhkan kebanggaan sebagai motivasi untuk melakukan
aksi-aksi selanjutnya.
Dan ketika akhirnya tersebar bahwa FPI -salah satu ormas
yang terlibat dalam aksi itu- berlatih dengan TNI, bayangkan mereka semakin
merasa mendapat angin untuk memperbesar barisan mereka. Bisa tumbuh kepercayaan
dari banyak orang untuk masuk FPI dan siap dicuci otak untuk melakukan aksi
kekerasan atas nama Islam.
Seharusnya jika memang TNI ingin menerapkan konsep bela
negara kepada FPI, yang pertama harus dilakukan adalah mengubah mindset mereka
dahulu. Selama ini banyak anggota FPI yang mindsetnya sama sekali tidak
menunjukkan kerukunan umat beragama dan berpotensi memecah persatuan di negara
ini.
Pengenalan-pengenalan kembali terhadap konsep negara dan persatuan
inilah yang hilang dari banyak ormas termasuk FPI, sehingga anggota mereka
merasa bahwa hanya merekalah yang berhak tinggal di negara ini dan yang lain
ngontrak.
Lagian juga, jika ingin menerapkan latihan bersama konsep
bela negara kenapa FPI tidak disuruh melepas atribut ormas mereka ? Ini yang
mau dilatih orangnya atau ormasnya? Ormas-ormas termasuk FPI itu memang beberapa waktu ini condong
kepada TNI daripada merapat ke Polri. Mereka selalu mengagung-agungkan Panglima TNI,
bahkan menyandingkannya sebagai "pimpinan pengganti" berpasangan
dengan Prabowo. Ini jelas berbahaya, ada indikasi untuk mengadu TNI dan Polri.
Dan tidak bisa disanggah, bahwa ada beberapa anggota TNI -mungkin juga Polri- yang masih menggunakan paradigma Islam versi ormas seperti
FPI. Ketika anggota-anggota TNI seperti ini dibiarkan, maka ada kemungkinan mereka
akan mudah terprovokasi atas nama "Bela Islam".
Bahaya sekali, wong mereka memegang senjata. Nanti terbelah
lagi TNI ada yang hijau, ada yang merah malah ada yang pelangi.
Keputusan Pangdam Siliwangi langsung mencopot Dandim Lebak
Banten itu sungguh langkah yang tepat, cepat dan tegas. Ini menunjukkan bahwa
TNI tetap solid di bawah pemerintah dan tidak mudah disusupi untuk kepentingan
ormas-ormas tertentu.
FPI, HTI, MIUMI, FUI dan ormas-ormas atas nama agama itu lebih
bagus jejerkan dan suruh hormat bendera dulu saja.. Lihat ketangguhan mereka
karena selama ini banyak diantara mereka yang berfikir bahwa hormat bendera itu
musyrik dan mereka ada di negara kafir karena tidak menerapkan syariat Islam.
Atau ajak minum kopi dan suruh mengucapkan keras-keras sila-sila Pancasila. Paksa mereka mengucapkan 1000 kali sila kedua, "Kemanusiaan
yang adil dan beradab.." Biar gak kofar kafir mulu kayak wong kenthir yang
jarang ditraktir.
Dan taruh foto Presiden besar-besar di hadapan mereka semua,
sambil mengeja pelan-pelan, "Ini Presiden. Presiden kita adalah Jokowi.
Presiden kita bukan Erdogan". Eh, seruput... ada yang ngamuks nanti...
