![]() |
| Ahok |
Apa kabar, bung..
Saya sebut bung aja ya, karena
lebih meng-Indonesia. Kalau koh, mas, bang itu lebih bersifat kesukuan..
Bung, anda mungkin mau baca kisah
legendaris ini..
Pada masa perang Khandaq, ada
seorang bernama Amr bin abd Wad. Ia berada di pasukan lawan Nabi Muhammad Saw.
Ia adalah seorang yg sangat ditakuti oleh banyak orang, karena kemampuan
berperangnya yg sangat baik.
Akhirnya Nabi Muhammad mengutus
Imam Ali, saudara dan sahabat dekatnya yang pada waktu itu masih sangat muda
untuk maju melawan Amr bin abd Wad.
Akhirnya terjadilah duel diantara
mereka, dikelilingi seluruh pasukan. Dan Amr bin abd Wad kalah. Ketika ia dalam
posisi terdesak, Imam Ali sudah mengangkat pedang untuk membunuhnya, tapi
tertahan karena ludah Amr bin abd Wad memerciki wajahnya.
Sontak Imam Ali menyarungkan
pedangnya dan meninggalkannya. Para sahabat keheranan dan bertanya, kenapa ia
tidak membunuhnya ?
Jawaban Imam Ali, "Ketika ia
meludahi wajahku, aku marah. Aku tidak ingin membunuhnya karena marahku.
Kutunggu amarahku hilang, dan aku akan membunuhnya dalam perang karena
Tuhan.."
Apa yang bisa kita pelajari dari
sini, bung ?
Kemarahan dalam situasi apapun
sesungguhnya adalah kekalahan. Kemarahan adalah emosi yang membuat seseorang
bertindak kurang rasional.
Disanalah kekalahan bung
sesungguhnya dalam peperangan...
Bung kalah ketika orang dengan
mudah memancing amarah bung. Bung kalah ketika orang akhirnya memanfaatkan
kemarahan bung sebagai senjata. Dan bung lebih kalah ketika lawan-lah akhirnya
yang memetik kemenangan dengan memaafkan bung..
Ambil ini sebagai pelajaran.
Banyak kemenangan didapat dengan emosi yang mampu diredam. Hati boleh panas
bung, tetapi kepala tetaplah dingin..
Bung seorang tokoh sekarang.
Tokoh yang setiap perkataannya pasti dipantau baik oleh kawan maupun lawan...
Hati-hati bung, jangan
perlihatkan kelemahan bung di depan lawan. Bung adalah orang yang jujur dan
pekerja, tambahkan satu lagi senjata dalam pertarungan, kemampuan meredam
amarah...
Selamat berjuang bung, anda tidak
sendirian. Buatlah kami bangga dengan kemenangan gemilang, bukan kemenangan
yang dipaksakan..
Satu waktu, saya akan mampir
kembali dan memaksa bung minum kopi lagi. Kali ini pasti kopi dari medan dan
bukan kopi sachetan...
Dari seorang sahabat
Sekaligus pengagum..
