![]() |
| Agama dan Politik |
Dalam sejarah Islam, politisasi
masjid tercatat terjadi pada saat kepemimpinan Muawwiyah bin abu Sufyan. Muawwiyah
yang bermusuhan dengan Imam Ali -Khalifah ke 4- memerintahkan seluruh masjid
di wilayah pemerintahannya, untuk melaknat Imam Ali di setiap kotbah Jumat.
Kejadian ini banyak tercatat dalam kitab-kitab sejarah Islam.
Salah satunya Di dalam buku
Al-Khilafah wal Mulk, Abul A’la al-Maududi, seorang alim Pakistan bermazhab
Hanafi, menulis:
“Ketika pada zaman Muawiyah
dimulai kebiasaan mengutuk Sayyidina Ali dari atas mimbar-mimbar dan
pencaci-makian serta pencercaan terhadap pribadinya secara terang-terangan, di
siang hari maupun di malam hari, kaum muslimin di mana-mana merasa sedih dan sakit
hati sungguh pun mereka terpaksa harus berdiam diri menekan perasaannya itu.
Kecuali Hujur bin Adi, yang tidak dapat menyabarkan dirinya…” (Abul A’la
al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 209-210, Penerbit Mizan, Cet. VII,
1998, Bandung)
Pencacian terhadap Imam Ali di
mimbar-mimbar Jumat itu bertujuan untuk melanggengkan kekuasaan dan
menghilangkan peran Imam Ali - dan ahlul bait Nabi - dalam kekhalifahan. Dan
ini seperti sudah menjadi Undang-undang tersendiri dalam pemerintahan Bani
Umayah.
Baru pada masa pemerintahan Umar
bin abdul Aziz-lah - sesudah puluhan tahun berlalu - pelaknatan itu dihentikan.
Umar bin abdul Aziz adalah seorang reformis, meski ia juga termasuk klan Bani
Umayah.
Jadi melihat politisasi masjid
sebagai ajang membunuh karakter seorang calon kepala daerah dengan pencacian
dan pelaknatan saat shalat Jumat, bukan lagi menjadi hal yang aneh karena
sejarah Islam mencatat hal yang sama hanya waktu dan pelakunya berbeda.
Apalagi ditambah dengan kebijakan
beberapa masjid dengan tidak menshalatkan jenazah pendukung Ahok, semakin jelas
bahwa masjid dibawa-bawa untuk kepentingan calon tertentu atas nama agama.
Memang kurang layak membandingkan
apa yang dialami Imam Ali pada waktu itu dengan Ahok sekarang ini, terutama
dari sisi tekanannya. Tapi mau bilang gak sama, kok ya ada mirip-miripnya
gitu..
Tidak mudah membuka kelamnya
sejarah Islam karena langsung dituding sebagai syiah, dan bagi mereka syiah
dikonotasikan lebih berbahaya daripada PKI.
Butuh keberanian tersendiri untuk
menentang arus dan membuka fakta bahwa sejarah terulang kembali dengan model
yang sama. Padahal membuka sejarah bukan bermaksud membenturkan, tapi sebagai
pelajaran.
Darimana kita belajar menjadi
lebih baik jika bukan dari peristiwa-peristiwa yang sudah lampau?
Memang Ahok ini hebat. Sudah
membuat banyak orang akhirnya membaca Al-quran dengan kasus Almaidah 51,
membuat 7 juta umat muslim shalat Jumat bersama di Monas, shalat subuh
berjamaah di banyak wilayah dan sekarang mempelajari sejarah Islam..
Bisa dibilang hanya khalifah yang
bisa melakukan ini dalam waktu sependek ini. Jadi, apakah Ahok sebenarnya
adalah khalifah yang mereka tunggu-tunggu?
Mencatut lagu Ebiet G Ade,
"Coba kita tanyakan pada Equil yang terhidang.. Wowowow.. owowowow..".
Kok ada wowo-nya ya? Apakah ini pertanda om Wowo nyapres lagi? Seruput dulu
ah...
