| Ahok |
“Saya bilang yang masih korupsi enggak usah sembahyang,
enggak usah shalat, nggak usah ngaku bersih kalo masih curi uang rakyat”
Begitu kata Ahok yang dipelintir oleh media-media yang
biasanya ada nama "Islam" dibelakangnya. Dan framing mereka -seperti
biasa- gagal paham dengan berkata, "Ahok melarang umat Islam
shalat.."
Saya lebih setuju pandangan bahwa konsep "kafir"
dalam ajaran Islam, sebenarnya banyak ditujukan kepada umat Islam sendiri.
Kafir berasal dari kata dasar kufur yang artinya menutup.
Menutup dari kebenaran atau ingkar. Dan dalam konteks Islam yang disebut
menutup dari kebenaran adalah ingkar dari petunjuk Nabi Muhammad Saw.
Nah, siapa saja yang disebut ingkar dari petunjuk Nabi
Muhammad Saw ? Banyak, tetapi yang lebih khusus adalah orang yang diberikan
petunjuk kebaikan tapi malah mengingkarinya. Seperti, dibilang "jangan
mencuri", tapi tetap saja mencuri.
Jadi, apakah shalat bisa mencegah orang untuk mencuri?
Seharusnya bisa, jika shalatnya bukan sekedar ritual atau kewajiban tetapi
lebih bernilai spiritual, berkomunikasi dengan Tuhan.
Ini yang banyak terjadi salah memahami arti shalat sehingga
ke depannya salah semuanya. Seolah-olah Tuhan butuh shalatnya manusia sehingga
dibilang shalat itu "menggugurkan" kewajiban. Yang butuh shalat itu
manusianya sendiri, supaya ia tetap berada pada kebaikan.
Perlu diketahui, iblis shalat kepada Tuhan 60 ribu tahun
lamanya tapi itu malah menjadikannya mahluk yang sombong, merasa paling
beriman. Jadi jangan pernah sok2an debat tauhid dengan iblis, karena pada
masanya, dialah rajanya..
Tetapi iblis menjadi kafir atau ingkar, karena ketika Tuhan
menyuruhnya tunduk kepada Nabi Adam as, ia menolak. "Enak aje, Adam itu
siape ?? Gua lebih dulu ada daripada die. Gua adalah kesayangan Tuhan karena
ibadah gue kuat. Lha, Adam baru muncul - mana dari tanah lagi - trus gua yang
terbuat dari api harus tunduk ma die ? Makdikipeee.. "
Maaf, itu dialog imajiner. Bukan berarti iblis itu asalnya
dari betawi karena ngomong lu gue..
Nabi Muhammad Saw saja pernah berkata kepada para
sahabatnya, "Janganlah kalian menjadi kafir sepeninggalku nanti.."
Dan sejarah membuktikan, bahwa banyak dari para sahabat saling membunuh satu
sama lain karena kekuasaan. Berarti mereka ingkar kepada wasiat Nabi
sepeninggalnya.
Hanya, politik kekuasaan sepeninggal Nabi berperan besar
dalam penentuan label "kafir" ini. Stigma kafir sejak zaman dulu
mirip stigma PKI, ditudingkan kepada mereka yang tidak sejalan dengan
penudingnya. Dan - dulu itu - akibatnya fatal, bisa dipenggal kepalanya..
Lalu kenapa konsep kafir sekarang banyak ditudingkan kepada
yang non musim ?
Ini sebenarnya dampak dari politik kekuasaan masa lampau.
Dibangkitkannya kebanggaan beragama sebanding dengan dilemahkannya akal.
Sehingga mudah mengarahkan orang-orang dengan doktrin untuk melanggengkan
kekuasaan...
Kalau bahasa kerennya, "orang bodoh yang dibungkus baju
agama" sehingga mereka menganggap bahwa perbuatan mereka selalu benar. Dan
hasilnya, sungguh mengerikan. Mereka menjadi ingkar dengan petunjuk tapi tidak
menyadarinya. Membunuh seseorang dengan pemahaman "darahnya halal".
Ucapan Ahok supaya muslim yang masih korupsi mending tidak
usah shalat sebenarnya adalah bentuk kasih sayangnya dia. Ia sekedar
mengingatkan supaya yang muslim jangan menjadi kafir.. Dan itu bukan karena ia
mengada-ada, karena - jika melihat masa kecilnya - Ahok menghabiskan waktunya
di lingkungan keluarga angkatnya yang muslim.
Dan lebih keras lagi, Ahok mengingatkan supaya jangan jadi
munafik. Shalat jalan, korupsinya juga kencang...
Pada dasarnya, jarang ada manusia biasa yang tidak kafir
atau ingkar. Karena kehidupan duniawi membuat manusia banyak yang ingkar dalam
menjalankan petunjuk kebaikan..
Seperti saya sekarang selalu mengajak minum kopi kepada
semua orang. Bagi penikmat teh, ia akan berlindung dari kekafiran karena takut
ingkar dari agama teh, sesudah mencicipi kopi sececap..
Mungkin habis mencicipi kopi, peminum teh langsung syahadat
lagi..