![]() |
| Eep Saifullah, Anies, Sandiaga |
Sengaja saya tulis surat terbuka
ini untuk kang Eep Saifullah. Kang, saya memang tidak nonton
ILC malam ini yang berjudul "Merajut Jakarta Kembali". Tapi saya
dapat beberapa poin melalui ulasan dan tayangan di youtube.
Di acara itu ada Buya Syafii Maarif yang mengingatkan kepada pasangan Anies Sandi, "Anies Sandi harus menjaga jarak dengan kelompok radikal. ISIS itu sudah masuk kesini.."
Dan kang Eep menjawab,
"Dengan segala hormat kepada orang tua saya, guru saya, Pak Syafii Maarif.
Rekonsiliasi harus dilakukan secara tuntas. Saya ingin katakan gubernur Jakarta
harus bekerja dan berfikir dengan cara baru, dia harus menjadi Nelson Mandela
yang setelah 27 tahun dipenjara menjadi Presiden di Afrika Selatan dia tidak
membawa dendam ke kursi kekuasaannya.
Yang dia bawa adalah cinta kasih
bahwa setiap orang berhak untuk memperoleh keadilan. Dan dengan itu dia bangun
rekonsiliasi Afrika Selatan."
Disini saya terhenyak dengan
pernyataan Kang Eep yang menyamakan Anies Sandi dengan Nelson Mandela.
Maaf, kang Eep, apa itu tidak
salah ??
Nelson Mandela adalah pejuang
para kulit hitam di Afrika Selatan supaya mendapat hak yang sama dengan kulit
putih disana. Dan sesudah 27 tahun di penjara, ia kemudian memimpin Afrika
Selatan dan berkata, "Jangan ada dendam" Mandela mengajak warga kulit
hitam dan putih saling memaafkan untuk tujuan lebih baik, yaitu membangun
Afrika Selatan.
Bagaimana bisa disamakan dengan
apa yang terjadi pada Anies Sandi? Itu sungguh tidak equil to equil, bahasa
bumi datarnya.
Kang Eep yang pasti jauh lebih
pintar dan lebih kaya dari saya, ternyata jauh lebih naif dari saya. Kang Eep
menganggap ormas radikal yang ada di belakang Anies Sandi itu -yang akang
manfaatkan untuk mendapatkan suara itu- adalah mereka yang bisa diajak untuk
bicara kesatuan negara seperti apa yang diharapkan Nelson Mandela?
Tidak, kang. Coba pelajari lagi
apa agenda mereka. Khilafah. Membentuk negara berdasarkan syariat Islam. Sudah
paham bedanya dengan Nelson Mandela?
Kalau Nelson Mandela berbicara
persatuan untuk membesarkan negara, sedangkan Anies Sandi ditunggangi mereka
untuk mencapai tujuannya mendirikan khilafah, yang jauh dari negara kesatuan
yang dicanangkan oleh para pahlawan kita.
Saya tidak bicara tentang warga
Jakarta disini, tetapi ormas. Jangan terlalu naif, coba bicara dengan mereka
dan baca agenda mereka.
Kang Eep mungkin hanya melihat
dari segi market -sebagai marketing Anies Sandi- dalam pemanfaatan masjid
sebagai mobilisasi. Tapi perhatikan dampaknya?
Para ormas radikal itu seperti
mendapat oksigen untuk berkembang. Mereka menunjukkan taring aslinya dengan
cara-cara kasar seperti tidak menshalatkan jenazah saudaranya sesama muslim,
membaiat pakai golok, mencaci maki saudara sebangsa di mimbar Jumat bahkan
mengusirnya dan menetapkan kafir dan munafik kepada saudara muslimnya yang
berbeda pandangan politik.
Apa masih belum lihat dampak luasnya
dari apa yang akang lakukan?
Para ormas radikal itu sebenarnya
tidak perduli siapa yang menjadi Gubernur. Mereka hanya ingin mendapat ruang
dengan menempel pada orang yang mereka anggap layak untuk ditunggangi demi
tujuan yang sebenarnya.
Dan Kang Eep menganggap bahwa
Anies Sandi sangat mungkin untuk menjinakkan mereka?
Bagaimana bisa Anies Sandi
mengekang mereka ketika pasangan itu terikat secara suara dengan mereka? Yang
terjadi, Anies Sandi takut kehilangan suara mereka ketika tidak membangun
kebijakan yang membuat mereka bisa berkembang lebih besar.
Mungkin Kang Eep bicara,
"Ah, itu tidak akan terjadi. Mereka bisa kok. Elu aja yang
ketakutan.."
Akang sudah mempelajari Suriah yang
proses awalnya seperti kita? Banyak warga Suriah menyambut baik gerakan ormas
radikal di tempat-tempat ibadah dan mungkin memanfaatkannya untuk tujuan politis.
Yang terjadi adalah, ormas-ormas itu semakin mendapat legitimasi untuk
berkembang lebih besar.
Mereka kemudian membuat kelompok
bernama Free Syirian Army dengan tujuan mendongkel pemerintahan yang sah.
Kemudian kelompok FSA ini menyambut ISIS dengan tangan terbuka karena
"saudara sesama muslim dan seperjuangan".
Apa yang terjadi?
Pucuk-pucuk pimpinan FSA dipenggal
oleh ISIS, karena menolak berbaiat dengan mereka. Itulah kenapa disana ada
pertarungan segitiga. FSA bertarung dengan ISIS yang sama-sama memerangi Bashar
Assad.
Apa pelajaran yang bisa kita
ambil dari sini?
Bahwa mereka itu punya ideologi
sendiri dan -jelas- itu bukan Pancasila. Masak masih menutup mata terhadap apa yang
terjadi dalam demo-demo mereka? Atau mata Kang Eep sudah terbutakan rupiah dan
keharusan untuk menang supaya harganya semakin mahal?
Kang Eep, Anies dan Sandi seperti
memelihara singa sejak kecil. Dan layaknya singa dengan naluri buas dan liar
mereka, ada kemungkinan mereka akan menerkam tuannya. Singa bukan binatang
ternak, kang.
Inilah yang coba diingatkan oleh
Buya Syafii Maarif yang jelas lebih banyak makan asam garam dari kita.
Kang Eep bermain bola api yang
panas sekali disini dan tidak sadar bahwa ini bisa membakar badan Kang Eep
sendiri. Kang Eep menikmati kemenangan yang dampaknya pundi-pundi uang akan
bertambah. Tapi tidakkah sadar, luka yang sudah terjadi ketika agama dipakai sebagai
alat keji dalam demokrasi?
Para ormas radikal ini merasa
mendapat ide bagus dan sukses dari ide pemanfaatan masjid oleh Kang Eep ini.
Dan akan mereka ulangi lagi dalam skala lebih besar dibantu oleh politikus
ambisius dan mafia ekonomi di negara ini. Gabungan para serigala ini pada
saatnya akan saling memakan karena berbeda tujuan dan kepentingan.
Masih naif juga menganggap semua bisa
diatur dan akan baik-baik saja?
Anies Sandi nantinya bukan
mengandangkan singa buas itu tapi melepasnya ke keramaian. Mereka akan beranak
pinak dengan ideologi Khilafahnya dan pada saat nanti sudah terlambat untuk
menyadari dan mencegahnya.
Dan pada saat itu tiba, leher
saya, leher kang Eep, Anies dan Sandi dan ribuan orang tak berdosa lainnya,
terancam terpisah dari tubuhnya karena kita akan dianggap "tidak
seiman" dengan mereka..
Terlalu besar pertaruhan ini..
Tapi tidak apa, semua sudah
terjadi. Saya sedang menyeruput kopi dan mulai memikirkan sisi baiknya dengan
situasi ini.
Akhirnya saya jadi tahu dimana
mereka dan bagaimana cara mereka mengembangkan diri. Dengan begitu, saya punya
bayangan apa dan bagaimana yang akan mereka lakukan nanti dan mulai mencari
solusi..
Itulah satu sisi baik yang bisa
saya ambil pelajaran dari situasi ini. Terimakasih..
Kapan-kapan kita ngopi biar saya
ceritakan "gambar besarnya". Jangan sampai nanti Kang Eep menyesal
karena keluarganya ada yang mati dipenggal mereka ketika berkuasa, dan mulai
teringat saat sekarang ini dengan keluhan, "Ampun, Tuhan.. Saya termasuk
bagian dari orang yang memulai situasi ini".
Dan penyesalan selalu datang
terlambat, ketika Kang Eep dicegat mereka dan disembelih lehernya hanya karena
mereka suka saja.
Lihat saja nanti 5 atau 10 tahun
lagi ketika kita memelihara singa di kamar kita dan berfikir bahwa mereka
kucing yang bisa dipeluk-peluk manja.
Ini tulisan untuk merenung bukan
dalam rangka membela diri. Selamat menikmati kemenangan Kang Eep. Nikmatilah
selagi masih bisa.
