![]() |
| Afi Nihaya |
Tiba-tiba saja beranda saya
dipenuhi copasan tulisan seorang anak SMA, namanya Afi Nihaya Faradisa.
Judul tulisannya "Warisan".
Menarik dan bagus sekali tulisannya. Saya masuk ke akunnya dan - wow - tulisan
itu dishare 38 ribu orang. Akunnya sempat diretas dan sekarang sudah balik
kembali.
Tulisan tentang warisan yang
berbicara tentang agama itu menjadi menakjubkan ketika dikeluarkan oleh seorang
anak SMA - mungkin kalau Gus Mus yang nulis, jadi biasa-biasa aja. Kita kaget,
ternyata ada juga ya anak SMA yang bisa berfikir dewasa seperti itu..
Saya jadi ingat Gloria Hamel,
anggota paskibra yang juga masih SMA. Dia datang dalam sebuah acara diskusi.
Dia bercerita banyak tentang masalah pada remaja seusianya. Internet mengepung
mereka dengan segala dampak baik dan buruknya.
Mengerikan -begitu kata Gloria-
ketika ia mendapati teman-teman seusianya dalam pergaulan bebas dan pamer lekukan
dan ciuman yang diupload ke youtube supaya dilihat banyak orang.
Disatu sisi, saya bertemu juga
dengan banyak remaja SMA yang menjadi simpatisan FPI. Mereka berpakaian putih
dan menutup wajahnya dengan kain putih seakan sedang berperang di Palestina. Mereka
siap tawuran dengan siapa saja yang menghalangi mereka ketika sedang
bersama-sama dengan kelompok garis keras.
Saya paham susahnya menjadi
remaja seusia mereka. Ketika itu saya dikepung oleh ganja, minuman keras dan
obat penenang bermacam2 dengan harga sangat murah, sama dengan harga sekeping
kaset musik waktu itu. Sulit sekali mencari diri sendiri waktu itu, ketika
lingkungan semua bergerak ke arah yang sama.
Karena itu saya salut dengan Afi
dan Gloria..
Mereka bergerak dalam ruang yang
berbeda, menentang arus dari liberalis yang keblalasan dan agamis yang
menakutkan, dua kutub berbeda yang sama kerasnya. Afi dan Gloria berusaha
menyeimbangkan keadaan dalam dirinya untuk berdiri ditengah dan berusaha bijak
dalam bersikap.
Situasi yang membentuk mereka,
menatah mereka ketika melihat keanehan2 yang terjadi dengan mata remaja mereka.
Mereka menolak untuk menjadi "begitu-begitu" saja dan ingin tampil
dalam bentuk yang berbeda.
Tidak banyak remaja yang sanggup
seperti Afi dan Gloria. Kebanyakan larut dalam situasi, seperti teman-teman
SMAku dulu yang meninggal karena overdosis heroin. Saya harus angkat topi
kepada mereka..
Dan ketika kulihat anak
perempuanku yang juga masih SMA, aku mendengar hal yang mengagumkan juga. Ia
ternyata seorang penulis di blognya. Hanya tulisannya semua dalam bahasa
inggris dan teman-teman pembacanya juga dari banyak negara.
Saya selalu percaya, bahwa benih
yang baik akan tumbuh menjadi tanaman yang baik pula. Mereka akan menjadi apa
yang mereka makan. Karena itulah saya selalu berusaha memberi mereka makanan
yang baik pula, yang halal dan bersih dari segala model suap apalagi korupsi.
Tidak ingin kukotori akal mereka dengan siraman harta haram dari hasil merampas
hak orang.
Begitulah ketenangan para
orangtua ketika mereka memahami sebab akibat dalam kehidupan. Tidak perlu cemas
anak kita akan menjadi apa nantinya, selagi kita sirami mereka dengan semua
yang baik dan halal..
Saya sendiri tidak paham,
bagaimana bisa seseorang berkata bahwa "ini ujian Tuhan" ketika
anaknya terperosok dalam kegelapan. Ia tidak sibuk mengupas dirinya sendiri
dengan apa ia memberi keluarganya makan. Tuhan selalu menjadi pihak yang
tersalahkan..
Ah, panggilan untuk naik pesawat
sudah terdengar. Kuangkat ranselku, kuhabiskan cangkir kopiku.
Solo, aku datang...
