| Kapolri |
Sejak awal aparat sudah
mendeteksi bahwa ISIS akan menyerbu Asia Tenggara termasuk Indonesia...
Bahkan Ketum PBNU Kyai Said Agil
Siradj sudah pernah memperingatkan bahwa ISIS akan masuk negara kita di tahun
2017 atau sekarang ini.
Dan kita melihat Filipina sudah
mulai diserbu ISIS dengan penguasaan kota Marawi. Para anggota ISIS pun banyak
yang dari Indonesia dan Malaysia.
ISIS memang tidak bisa dianggap
remeh. Mereka didukung oleh banyak negara - meski malu2 mengakuinya - sebagai
pasukan terdepan untuk menguasai sumber daya alam. Persenjataan mereka,
soliditas organisasi mereka bahkan keuangan mereka sangat kuat.
Karena ISIS tidak main-main
itulah, maka kepolisian Indonesia yang bertugas menjaga keamanan dalam negeri
juga tidak main-main menyambutnya. Mereka harus bekerjasama dengan banyak
negara untuk melihat bagaimana cara menghadang ISIS sebelum mereka masuk ke wilayah
kita.
Dan ketika Pak Tito Karnavian
Kapolri berkunjung ke Iran dan menanda-tangani MOU keamanan dengan kepolisian
Iran, saya jadi sangat lega..
Iran bisa dbilang adalah sedikit
dari negara di timur tengah - dimana tidak ada pangkalan militer AS disana -
yang aman. Meskipun negara tetangga bergolak - termasuk Suriah - Iran tetap
tenang dan bahkan dengan santainya menyelenggarakan pilpres disana.
Iran terkena bom bunuh diri
terakhir tahun 2010 lalu. Bom yang meledak di Masjid Iran dekat dengan
perbatasan Pakistan itu, menewaskan 39 orang yang sedang mempersiapkan diri
menyambut hari berkabung syahidnya Imam Hussein - cucu Nabi Muhammad SAW.
Jadi bisa dibilang, sampai
sekarang Iran sudah berhasil mengkoordinasikan dalam negerinya dari serangan
ISIS. Iran bahkan sukses membantu Suriah dan Irak - bersama Rusia - dalam
mengusir ISIS disana.
Keberhasilan Republik Islam Iran
dalam menangani terorisme, peredaran narkoba dalam negeri dan cyber space
inilah yang menarik pak Tito untuk belajar kesana.
Saya senang pak Tito tidak
termakan hasutan bahwa mazhab syiah - yang dianut mayoritas penduduk Iran -
adalah mazhab yang harus dimusuhi. Buat pak Tito, profesionalisme diatas
segalanya.
Seperti yang dikatakan beliau,
" Iran merupakan sebuah negara aman di antara negara-negara yang tidak
aman, di mana muncul pertanyaan bagi kami bahwa dalam kondisi seperti ini
bagaimana Iran mampu menjaga keamanannya, dan di sinilah penggunaan pengalaman
polisi di negara ini adalah penting,”
Lalu kira-kira bagaimana reaksi
Saudi -dan Amerika- yang baru saja menyatakan bahwa Iran lah yang memproduksi
ISIS? Inilah yang menarik..
Jelas Saudi akan marah besar.
Hasutannya tidak mempan karena pak Tito sudah berhasil mengidentifikasi akar
masalah dan paham bahwa bukan Iran lah yang bertanggung-jawab terhadap maraknya
ISIS di negara-negara timteng.
Merapatnya kepolisian Indonesia
bergabung dengan kepolisian Iran, ini akan memantik masalah baru dalam hubungan
internasional antara Indonesia dan Saudi.
Dan saya yakin, pakde Jokowi
tidak perduli. Sesuai slogan yang dicanangkannya, "Bahwa semua negara
adalah teman sampai salah satu mencoba memaksakan kehendaknya.."
Selain tertarik dengan reaksi
Saudi, saya juga tertarik dengan reaksi Tentara Nasional Indonesia..
Apakah pak Gatot juga akan
bekerjasama dengan Iran dalam pertahanan negara ini, mengingat Iran adalah
negara yang sukses dan aman sehingga ISIS sulit sekali masuk ke negeri itu.
Kita tunggu saja sambil minum
kopi, semoga harapan saya TNI juga akan melirik Iran sebagai partner dalam
masalah ini. Seruput dulu ah kopinya..