![]() |
| Jokowi |
"Trus, bagaimana menjawab
pertanyaan bahwa Jokowi berbohong waktu kampanye, bang?". "Bohong apanya?".
"Itu. Yang Jokowi ngomong
bahwa negeri ini bisa dibangun, dananya ada asal kita mau kerja. Eh, ternyata
kita ngutang lagi ngutang lagi. Kalau cuman ngutang, siapapun bisa.."
"Masak sih siapapun bisa?
Ada yang 10 tahun berkuasa dan berutang toh gak bisa juga membangun negeri ini?"
Diam.
Anggap saja begini. Kita punya
ayah. Ayah kita meninggal. Ia mewariskan kita uang 10 juta dan hutang 100 juta
yang sudah jatuh tempo. Bisakah kita melunasi hutang jatuh tempo itu dengan
uang 10 juta?
Tentu tidak bisa.
Tapi kita juga mewarisi rumah
seharga semilyar yang dijadikan jaminan bank untuk hutang 100 juta itu. Kalau
hutang 100 juta tidak dibayar, maka rumah semilyar akan dilelang.
Dijual saja rumahnya ? Tidak
boleh. Begitu wasiat almarhum ayah. Kalau begitu apa yang harus dilakukan ?
Duduk sejenak dan berfikir.
Daripada sibuk mencaci lebih bagus melihat solusi.
Cara melihat solusi adalah
melihat potensi. Apa sih potensi diri kita ? Mau kerja. Oke. Itu satu.
Potensi lain ? Coba lihat rumah
kita. Letaknya strategis di pinggir jalan. Dekat dengan keramaian. Nah, kenapa
kita gak bikin rumah makan sederhana aja ? Toh selama ini kalau kita masak,
dipuji sama banyak orang..
Tapi duitnya darimana ? Modal
bikin rumah makan 30 juta, sedangkan uang cash yang diwariskan cuman 10 juta.
Itu juga sebagian dipake buat nyicil hutang supaya rumah gak disita..
Kalau begitu, kita minta tambah
pinjam dana dari bank 20 juta. Jaminannya ? Ya rumah yang digadaikan itu.
Kita bikin konsep, coret2an
peluang dan resiko, lalu kita maju ke bank. "Bank, bisa gak lu tambahin
gua uang 20 juta lagi untuk bangun rumah makan bla bla bla.. Hasil dari rumah
makan ini akan bisa nyicil hutang ke elu sampe lunas..."
Bank melihat potensi usaha kita..
Inilah yang disebut "uangnya
ada". Yang dimaksud bukan uang cash yang kita punya, tetapi
"potensi" mendapatkan dananya. Kita masih punya kekayaan yang harus
diuangkan supaya kita bisa bergerak sebagai modal usaha.
Jadi Jokowi tidak berbohong.
Cuman ada yang gagal paham aja dengan kata "dananya ada".
Apakah semua rumah yang
digadaikan ? Entar kalau usahanya gagal gimana ? Ya, kita harus pintar dong.
Kita gadaikan yang garasi saja yang menghadap ke jalan untuk tempat usaha.
Kalau pun gagal usahanya, garasinya kita lepas.
Tapi masak sih gagal kalau kita
mau kerja ?
Akhirnya bank setuju dan mulailah
kita mendapat tambahan modal. Sesudah dapat modal, baru kita kerja, kerja dan
kerja.
Begitu skema sederhananya
"apa yang terjadi" dan "apa yang harus dilakukan sebagai
solusi" untuk menyelesaikan masalah di negeri kita..
Kita juga bisa membangun
kerjasama dengan orang lain. Dia yang keluar uang untuk modal, kita yang punya
tempat. Hasilnya dibagi. Apapun akan kita lakukan untuk bisa membayar hutang
kepada bank dan mengembalikan rumah kembali menjadi milik kita lagi.
"Trus apa bedanya dengan
yang dulu, bang ? Yang dulu kan juga begitu sama seperti Jokowi, hutang dengan
menggadaikan rumah ?"
"Yang dulu itu malas dan gak
bisa bisnis. Hutang 100 juta buat bikin kandang ayam. Kandangnya cuman 5 juta,
sisanya dibuat mabuk2an ma teman2nya dan ayah mewarisi hutangnya.
Sekarang kandang ayamnya
mangkrak.."
Temanku berfikir keras.
Sepertinya kata "mangkrak" sangat familiar buat dia..
Ah, kutinggal seruput kopi saja..
