| Penusukan Brimob |
Belum selesai, beberapa hari lalu
di Mapolda Sumut satu polisi gugur ketika sedang jaga dan ditusuk. Bulan Mei, 4
polisi menjadi korban ketika sebuah bom bunuh diri meledak di dekat mereka.
Sebelumnya di akhir tahun 2016,
polisi menangkap 3 teroris di Tangerang Selatan, yang nengaku akan meledakkan
diri sesudah menikam polisi. Di bulan Oktobernya, seorang Kapolsek tiba-tiba
diserang dan ditusuk oleh seorang simpatisan ISIS..
Ya, mereka semua simpatisan ISIS.
Pemujaan terhadap ISIS bisa dilihat dari ditemukannya poster2 ISIS di rumah
mereka. Mereka belajar membuat bom panci melalui internet dan mendapat perintah
membunuh melalui internet juga.
Dan target utamanya adalah
polisi..
Pertanyaannya, kenapa harus
polisi ? Kenapa sasarannya bukan masyarakat biasa ? Misalnya seperti yang
sering terjadi di Irak dan Suriah dimana para bomber meledakkan diri di tengah
keramaian seperti pasar ?
Banyak faktor yang bisa mendasari
alasan di balik ditargetnya para polisi negeri kita. Tetapi faktor yang paing
kuat adalah sel-sel tidur teroris diperintahkan membunuh polisi untuk
melemahkan mental para korps baju cokelat itu.
Serangan massif itu juga
menunjukkan kepanikan teroris ketika anak buah pak Tito menyudutkan mereka,
memblokir akses mereka sehingga sulit mencari bahan2 utk bom panci tanpa
dicurigai dan menangkap mereka yang sudah siap beraksi.
Di bawah pak Tito ini kepolisian
- terutama dalam bidang terorisme - bekerja dengan baik. Pak Tito yang memang
besar di bidang terorisme, bisa bergerak lebih cepat dari para teroris itu
sehingga mencegah kerusakan yang lebih besar.
Polisi berhasil menangkap banyak
pelaku teror yang belum siap dengan aksinya. Tahun ini saja, ada puluhan
terduga teroris yang diangkut dari rumahnya di Jambi, Banten, Bandung, Cikarang
dan Tangsel. Polisi berhasil menyisir dan mempersempit gerak mereka.
Karena rencana mereka terganggu
itulah, muncul dendam kepada pihak kepolisian yang menghalangi gerak mereka.
Dendam mereka dilampiaskan dengan
terus mencaci dan merendahkan pihak kepolisian terutama divisi anti teroris.
Ingat, ketika ada bom thamrin
banyak yang menuduh polisi merekayasa bom itu ? Belum lagi mereka melecehkan
bom panci yang ditemukan polisi sebagai "akal-akalan" polisi untuk
melakukan kriminalisasi.
Bahkan para simpatisan ISIS itu
secara terang2an mengadu domba antara Kapolri dan Panglima TNI, dengan memuji2
kinerja Panglima dan menghancurkan karakter Kapolri.
Mereka memainkan peran di media
sosial dengan massif dan banyak yang tidak paham terikut permainan propaganda
utk melemahkan aparat kepolisian tanpa sadar.
Yang mereka harapkan dengan
jatuhnya mental polisi - baik dari sisi tidak dihargai kinerja mereka maupun
ketakutan akan ditusuk di jalanan - membuat polisi menjadi lemah dan tidak
fokus lagi mengejar teoris dan mereka lebih bebas mengatur serangan yang lebih
besar ke pemerintahan..
Semoga kepolisian tetap kuat
menghadapi situasi ini dan terus menggempur para teroris tanpa perduli kicauan
miring para manusia2 tak tahu diuntung itu..
Mari kita support pak Tito dan
seluruh jajaran Kepolisian dalam menuntaskan tugas mereka supaya negeri ini
lebih aman. Seruput..