![]() |
| Jack Ma |
Dalam perjalanan belajar
"bagaimana start-up bergerak" ini, saya menemukan satu poin penting. Bahwa investor bukan hanya
melihat bagaimana aplikasimu bekerja, tetapi seberapa "gila" founder
aplikasi itu sejatinya.
Banyak investor yang berinvestasi
kepada orang, bukan kepada mesin aplikasinya. Karena mesin itu perwujudan ide
seseorang.
Seorang "gila"
mempunyai pemikiran-pemikiran yang kebanyakan diluar pemikiran orang banyak.
Mereka mempunyai visi yang jauh ke depan dan memulainya di waktu sekarang..
Pada model aplikasi dengan orang
seperti inilah investor lebih suka berinvestasi. Karena biar bagaimanapun
investor ingin uang yang ia tanamkan, akan berbuah lebat dalam waktu 5-10 tahun
ke depan. Dan supaya bisa seperti itu, dibutuhkan seseorang yang berani keluar
dari kebiasaan lama banyak orang.
Orang-orang gila di dunia
start-up bisa kita lihat seperti Bill Gates, Steve Jobs, Mark Zuckerberg dan
Jack Ma.
Di Indonesia kita mengenal Nadiem
Makarim founder Go-Jek dan William Tanuwijaya founder Tokopedia, 2 perusahaan
aplikasi yang meraih posisi "unicorn" atau startup yang mempunyai
valuasi perusahaan senilai 1 milyar dollar AS atau sekitar 13 trilyun rupiah..
Perusahaan aplikasi itu adalah
gudangnya ide. Mereka akan terus berinovasi supaya tidak mati, tenggelam dalam
kemunculan startup di Indonesia yang muncul ratusan banyaknya.
Meski begitu banyak startup
muncul, tetap saja investasi yang paling dilirik investor adalah dengan melihat
foundernya. Semakin gila dia dengan ide-idenya, semakin banyak uang terkucur
kepadanya.
Indonesia sebenarnya gudangnya orang gila. Ada yang gila agama, ada yang gila fitnah, gila sedekah juga ada, bahkan gila karena gak jadi-jadi Presiden juga ada.
Tapi dari banyaknya kegilaan itu,
yang belum banyak muncul adalah orang yang gila berinovasi, bermimpi menjadi
besar dengan karyanya dan ingin menjadi inspirator bagi junior-juniornya.
Apakah kamu termasuk orang gila atau
orang yang biasa-biasa saja?. Cuma secangkir kopi yang bisa menjawabnya.
