![]() |
| Ridwan Kamil |
Helmi Hasan, Walikota Bengkulu
gundah.
Setiap subuh dia melihat
kenyataan sepinya masjid. Ia lalu berfikir bagaimana supaya masjid penuh.
Akhirnya ia merancang program "BENGKULU RELIGIUS", yaitu program
siapa yang taat ke masjid dapat hadiah mobil Inmova..
Program ini banyak yang menentang
meskipun banyak juga yang mendukung.
Pada akhirnya setelah 2 tahun
program ditutup karena kata Helmi politisi PAN ini, ia harus mengembalikan
kembali fungsi masjid sebagai tempat ibadah karena Allah bukan karena hadiah..
Dan sesudah program itu selesai,
maka masjid pun surut kembali dari jamaah yang ibadah subuh...
Ndilalah, program lama ini
diteruskan Ridwan Kamil, Walikota Bandung dengan konsep berbeda..
RK panggilan singkatnya,
mencanangkan program "BUTUH DUIT, AYO KE MASJID". Program ini
bersifat pinjaman maksimal 30 juta yang dikelola oleh DKM-DKM bekerjasama
dengan BPR. Yang bisa meminjam, tentu saja yang katanya rajin ke masjid..
Entah kenapa masih banyak orang
yang mengiming-imingi ibadah -yang notabene adalah kegiatan spiritual- dengan
hadiah material.
Padahal sejatinya spiritual dan
material adalah dunia yang jauh berbeda yang tidak bisa disatukan. Mereka yang
terjebak material jelas kering dari hal spiritual, begitu juga mereka yang
sudah memasuki dunia spiritual tidak lagi terikat dengan hal yang material.
Lalu kenapa ada pemimpin daerah
yang berusaha menggabungkannya?
Ada dua faktor sebenarnya.
Pertama, mereka tidak mengerti konsep spiritual dan kedua karena politis.
Melihat kasus Helmi dan RK, jelas
ada hubungannya dengan politik menarik simpati umat Islam. Helmi sudah sadar
bahwa ia salah sedangkan RK baru memulai. Apalagi mendekati Pilgub Jabar 2018,
terlihat jelas bahwa ada udang dibalik bakpau.


Diluar masalah spiritual dan
material, RK harusnya paham bahwa apa yang ia lakukan adalah kesalahan.
Pertama, salah karena mengiming-imingi ibadah dengan pinjaman. Kedua, RK -sebagai seorang moderat- seharusnya paham
bahwa masjid sekarang banyak diduduki kaum radikal. Peristiwa Pilgub DKI
seharusnya membuka mata bahwa masjid adalah tempat berkembang biak paling aduhay
untuk mereka.
Seorang teman yang bekerja di
pemerintahan berkata, bahwa banyak program beasiswa untuk muslim
disalah-gunakan untuk mengembangkan ideologi kaum radikal.
Bagaimana caranya? Ya dengan
memanfaatkan program beasiswa itu bagi kelompok mereka saja. Dengan begitu
mereka memanfaatkan program pemerintah untuk membesarkan kelompok mereka.
Nah, apa tidak mungkin pinjaman
melalui masjid itu akan dimanfaatkan untuk kepentingan politis kelompok
tertentu? Kalau ga gabung dengan ormas tertentu misalnya, gak bakalan dikasi
pinjaman...
Lihat, kesalahan satu akan
diikuti kesalaham lainnya. Seperti bola salju yang makin lama makin membesar
dan pada satu waktu akan sulit memadamkannya..
Kembalikan fungsi masjid sebagai
tempat ibadah tanpa embel-embel lainnya. Sebagai seorang pemimpin seharusnya
paham mana yang benar dan mana yang salah karena tanggung jawab keputusan itu
sangat besar..
Lagian sebagai pemimpin yang
mengayomi semua umat, kenapa tidak gereja, vihara dan tempat ibadah lainnya
tidak mendapat perlakuan yang sama ? Katanya harus mematuhi sila ke lima,
keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia..
Sudah cukup kita terluka dengan
peristiwa Pilgub DKI yang malah akhirnya membentrokkan sesama muslim karena
penguasaan masjid untuk kepentingan politik kelompok pendukung si anu. Jangan
lagi masjid ditunggangi untuk nafsu duniawi belaka..
Kata seorang teman lagi, biasanya
mereka yang tidak punya program kerja bagus, akan berlindung dibalik agama
untuk mendulang suara.
Kang Emil pasti tidak begitu kan? Mudah-mudahan tidak. Kalau iya, saya sebagai warga
Jakarta pasti tidak akan lagi memilih Kang Emil. Tidak mungkin, nehi!!
Mending saya nyeruput kopi di
rumah saja...
