![]() |
| Bahagia |
"Kenapa saya tidak bahagia?".
Tanya seseorang yang mampir di inbox. Pertanyaannya singkat tapi terlihat
sangat butuh jawaban segera. Saya justru heran, kenapa dia tidak bahagia? Apa
yang membuat dia tidak bahagia?
Saya perhatikan profile pic nya
dia tampak sehat. Dia bukan orang yang harus berjalan dengan dua tangan sejak
kecil karena terlahir tidak punya kaki. Dia juga tampak bukan orang yang lahir
cacat kembar dempet dengan dua kepala dan satu tubuh yang tidak bisa dipisahkan
kecuali oleh mati.
Lalu apa yang membuat dia tidak
bahagia?
Saya pun menulis...
"Bahagia itu bukan dicari, ia dihadirkan dalam diri. Ia sulit hadir ketika seseorang selalu marah pada situasi. Ia tidak akan hadir ketika seseorang selalu berputus asa dan menyalahkan takdir kenapa ia dilahirkan seperti ini.
Bahagia hanya hadir kepada
manusia yang selalu bersyukur atas apapun yang terjadi. Sehebat apapun
hantamannya, sekuat apapun tekanan yang dihadapinya, semua itu terjadi bukan
tanpa makna. Tetapi melatih orang untuk berfikir bahwa tidak ada yang bisa
mengalahkan seseorang selain dirinya sendiri.
Ketika kamu bertanya kenapa saya
tidak bahagia, saya akan bertanya kenapa kamu tidak bahagia. Jangan menjawab
dengan beribu alasan, tetapi mulailah instropeksi bahwa setiap manusia
dilahirkan pasti karena mempunyai fungsi.
Carilah fungsimu di dunia ini dan
bahagia akan tumbuh seiring manusia menghargaimu bukan karena siapa dirimu
tetapi apa yang sudah kamu lakukan terhadap orang lain.
“Kebahagiaan itu seperti magnet yang akan menarik kebahagiaan disekitarnya, begitu juga sebaliknya dengan kesedihan".
Kubakar sebatang sigaret malam
ini dan mulai berfikir bahwa banyak manusia yang salah bertanya. Ia seharusnya
tidak bertanya kenapa dia tidak berbahagia, tetapi bertanya kenapa tidak mampu
membuat orang lain bahagia.
"Tuhan itu sesuai prasangka
manusia terhadap diri-Nya", sabda Nabi. Ketidak-hadiran Tuhan dalam diri
seorang manusia bukan karena Ia tidak ada, tetapi karena manusia yang tidak
menghadirkanNya.
Begitu juga dengan bahagia.
Bahagia itu seperti secangkir
kopi. Ia pahit bagi dirinya tetapi nikmat bagi orang lain yang mencecapnya.
