![]() |
| Jokowi |
Sebenarnya masalah terbesar
pemerintah kita sekarang ini bukan di programnya, tetapi di komunikasinya. Meskipun
programnya bagus jika komunikasinya buruk, maka yang terjadi adalah
kesimpang-siuran informasi. Karena informasi yang simpang siur itulah mudah
dipelintir oleh mereka yang kontra. Pemerintah masih terlalu linear ketika
menyampaikan sebuah permasalahan. Sebagai contoh, pencabutan
subsidi listrik..
Bukannya sibuk menjelaskan dan
memberi pengertian kenapa subsidi listrik perlu dicabut, pemerintah malah sibuk
menyampaikan angka2 kepada publik. Jelas yang awam yang sudah pusing, makin
puyeng pala berbie-nya..
Seharusnya penjelasan angka itu
hanya informasi tambahan. Sedangkan informasi utamanya adalah kemana hasil
pencabutan subsidi disalurkan. Ini masalah "angle" atau sudut pandang
saja..
Jika diambil angle bahwa
pencabutan subsidi listrik adalah bagian dari "konsep berbagi" kepada
saudara sebangsa yang wilayahnya belum teraliri listrik, niscaya keributan
sebagian besar bisa teredam.
Pemerintah harusnya sadar bahwa
banyak masyarakat kita yang masih awam, karena itu bicaralah sebagaimana bicara
kepada orang awam.
Contoh komunikasi buruk lagi
adalah masalah garam...
Memang bu Susi benar di garam itu
ada mafianya. Tapi seharusnya masyarakat di jelaskan juga bahwa kita sulit
memenuhi swasembada garam karena kita tidak punya tambang garam.
Negara pengekspor garam bukan
negara yang punya garis pantai terpanjang, karena tidak semua air laut bisa
dijadikan garam. Apalagi teknologi kita masih jelek banget.
Australia bisa menjadi pengekspor
garam karena mereka punya tambang garam, bukan karena mereka mengandalkan
proses air laut menjadi garam..
Contoh yang lain adalah ketika
Telegram diblokir..
Masalah diblokirnya Telegram itu
masalah sederhana sebenarnya, yaitu masalah kedaulatan negara. Negara berhak
mengatur siapa saja yang berbisnis disini, bukan malah diatur.
Bukannya menitik beratkan pada
pesan itu, Menkominfo malah main ancam2an ke Youtube, Facebook dan Google. Ya
jelas dipelintirlah oleh kaum sempak bergambar mawar bahwa media sosial akan
ditutup..
Jadi kebayang kan, bagaimana
sulitnya menyampaikan sesuatu atau berkomunikasi itu?
Sama sulitnya ketika para Rasul
harus menyampaikan firman supaya manusia berbuat baik kepada sesama dengan gaya
bahasa terendah, kepada manusia yang masih bodoh dan barbar kala itu...
Sama sulitnya ketika anak kecil
kita bertanya, "Pa, seks itu apa?".
Kita sibuk membuka Enny Arrow
hanya untuk mencari jawaban yang simple yang tidak memalukan. "Seks itu
adalah ketika dua orang dewasa saling menggelomoh dan menyosoh sehingga salah
satunya terkulai kelelahan berselimutkan keringat di sekujur badan.
Sesudah itu jadilah kamu, ya kamu
nak..". Si anak bengong..
