![]() |
| Sby bersalaman dengan Megawati |
Sejarah baru kembali ditoreh oleh
Presiden Jokowi.
12 tahun berlalu, akhirnya
Megawati dan SBY, mantan Presiden Indonesia, bertemu dan bersalaman di acara
peringatan hari kemerdekaan di istana.
Ini perjalanan panjang bagi
keduanya. Sejak pilpres 2004, Megawati seperti menyimpan bara kepada SBY yang
menyalipnya di tikungan. Dan selama 10 tahun kepemimpinan SBY, tidak sekalipun
Mega menghadiri upacara peringatan kemerdekaan di istana. Biasanya yang
mewakili adalah Puan, anaknya.
SBY juga begitu...
Selama dua tahun kepemimpinan
Jokowi, SBY tidak pernah menginjakkan kakinya kembali di istana saat acara 17
Agustus. Seperti berbalas pantun, dimana ada SBY disitu Mega tidak ada dan
sebaliknya.
Tapi di usia 72 tahun Indonesia
ini ternyata beda...
Jokowi secara pribadi meminta
kedua mantan Presiden itu untuk hadir bersama dan melupakan permusuhan mereka
selama ini. "Dah pada tua, masih pada berantem aja.." begitu mungkin
pikiran Jokowi.
Dan akhirnya sejarah berbicara,
kedua mantan Presiden itu bertemu dan berjabat tangan. Mungkin saja mereka
mengaitkan kelingking tanda sudah tidak jotakan, seperti yang dilakukan ketika
masa kecil dulu.
Buat saya, ini bukan saja masalah
sejarah yang terrtoreh tapi strategi politik yang ciamik dari Jokowi.
Dengan menempatkan Mega dan SBY
dalam satu panggung, maka ada yang hatinya terluka di seberang sana, yang juga
merayakan hari kemerdekaan di sebuah universitas di Jakarta.
Ketidak-hadiran SBY di acara mereka
dan malah hadir di istana, menunjukkan bahwa koalisi oposisi itu ternyata
sangat lemah. Pantas waktu di foto bersama, wajah mereka semua bermuram durja
dan gundah gundala.
SBY jelas diharapkan akan
bergabung pada kubu mereka apalagi sesudah diplomasi "nasi goreng"
itu. Dengan bergabungnya SBY di kubu oposisi, diharapkan akan bisa membangun
persepsi kekuatan seperti saat koalisi di parlemen dahulu, KMP vs KIH.
Sayang seribu sayang, mereka
tidak paham bahwa SBY jelas akan lebih memilih datang ke istana. SBY juga paham
peta kekuatan yang ada dan tidak bijak bagi dirinya sekarang ini untuk
mengambil sikap oposisi pada Jokowi.
Lagian dia pernah jadi mantan,
sedangkan yang di seberang masih jadi calon-calonan. Kepiawaian politik gaya Solo
Jokowi yang merangkul, adalah sebuah contoh yang harus diadopsi banyak calon
pemimpin nantinya. Jokowi pintar memainkan momen dan simbol dalam segala lini.
Dalam rangkulan Jokowi, terbaca
banyak pesan. Mulai pesan persahabatan, pesan kekeluargaan, pesan damai
sekaligus pesan mematikan untuk lawan.
Dan mungkin ini juga yang membuat
Prabowo akhirnya menjadi kesal. Kekesalan itu dilampiaskan ke wartawan.
"Dari muka kalian, keliatan gaji kalian kecil..."
Wartawan yang gak tahu apa-apa
jelas melongo sambil melirik dompet masing-masing yang pada setiap tanggal 17
semakin tipis.
Malam ini para wartawan mungkin
juga sedang berkaca di cermin masing-masing, sambil bertanya dalam hati,
"Benarkah muka ada korelasinya sama gaji ?" Dua dari puluhan wartawan
yang hadir tadi, besoknya rencana untuk operasi plastik.
Sudah malam, daripada ngelantur
lebih baik seruput kopi biar segar.
