![]() |
| Jenderal Gatot Nurmantyo |
Sudah lama saya ingin berkomentar
tentang langkah-langkah Panglima TNI. Saya tahan, karena tidak ingin salah
dalam memberikan prediksi. Meskipun sudah banyak yang mencurigai bahwa apa yang
dilakukan Panglima adalah bagian dari gerakan menuju Pilpres 2019.
Saya ingat sekali, Panglima
dipilih dan diajukan sendiri oleh Presiden Jokowi. Diluar saya sempat mendengar
desas desus bahwa Bu Mega sendiri marah ketika pakde kembali memilih Panglima
dari Angkatan Darat karena sudah seharusnya jabatan itu diambil dari angkatan
lain.
Tapi saya tetap percaya kepada
pilihan Presiden, karena kepercayaan tinggi untuk menjaga pembangunan
infrastruktur di Papua dan distribusi pupuk yang kala itu banyak dikuasai
mafia. Itulah yang saya ketahui..
Begitu juga ketika Panglima terus
menerus bergerak ke kampus-kampus, meski diakui sudah seijin Presiden. Padahal
banyak pendapat yang mengatakan bahwa bukan tugasnya Panglima ke kampus, karena
dirinya dibutuhkan di kesatuan.
Tapi semakin hari ternyata
langkah Panglima sudah mulai offside, menurut saya. Kepercayaan penuh Presiden
yang diberikan, malah membuat Panglima melangkah semakin lebar.
"Emang gua pikirin.."
begitulah Panglima berkomentar ketika ditanya wartawan dalam setiap langkahnya
yang kontroversial. Sebuah jawaban yang bukan membuat adem, tapi malah membuat
suasana menjadi gerah.
Menuju hari Kesaktian Pancasila,
situasi bukannya semakin teredam, malah Panglima membuat manuver-manuver yang
tidak efektif. Nonton bareng film PKI di kesatuan, misalnya. Meskipun itu hak
Panglima memberi perintah, tapi itu malah memberi ruang tuduhan-tuduhan sepihak
"kamu PKI" kepada banyak orang.
Dan lihat, PKS pun memanfaatkan
dengan gembira langkah Panglima, yang membuat isu PKI ini makin menjadi panas
karenanya.
Dan ketika Menkopolhukan dan
Kapolri, menganulir pernyataan Panglima tentang 5 ribu senjata yang katanya
"masuk ke Indonesia", barulah saya mulai bertanya, "ada apa
Panglima?"
Abaikan tulisan ini karena saya
hanya warga biasa yang tidak layak didengar suaranya, apalagi jabatan saya
tidak ada apa-apanya dibandingkan jabatan Panlima TNI.
Tapi inilah keresahan yang harus
saya tuangkan, daripada saya simpan dan jadi jerawat di muka. Tontonan adu
argumentasi antara pejabat pemerintah dengan liputan media massa yang luas,
tentulah bukan hal yang bagus dan malah akan dimanfaatkan oleh mereka yang
punya kepentingan tidak baik.
Sudah selayaknya, jabatan-jabatan
tertinggi negara membuat situasi menjadi adem dan tenteram, bukannya saling
memanaskan. Republik ini sedang menuju pendewasaan, seharusnya dibimbing
bukannya malah dipertontonkan hal yang tidak berkenan..
Jangan lagi kata "Emang gua
pikirin.." menjadi senjata efektif untuk membungkam banyak pertanyaan di
kepala. Seharusnya memang dipikirkan, bagaimana semua menjadi lebih baik,
bukannya diabaikan atau malah dipelihara situasi panasnya.
Kami mengharapkan pernyataan yang
bijak dari seorang Panglima, bukan pernyataan yang melecehkan.
Saya tetap berpandangan positif,
meski sudah mulai goyah dengan apa yang saya yakini sekarang. "Jabatan itu
memang manis.." begitu kata seorang teman ketika menganalisa bahwa apa
yang dilakukan Panglima adalah bagian dari menarik simpati masyarakat menuju
Pilpres 2019.
Saya dulu menampik analisa dia,
meski saya mulai percaya sekarang..
Panglima, Maret 2018 kemungkinan
adalah bulan terakhir menyandang jabatan. Semoga hari-hari terakhir menujunya
bisa diisi dengan pernyataan dan tindakan yang lebih berguna buat kita semua,
daripada terus mengeluarkan pernyataan kontroversial yang menuduh sana sini.
Saya orang kecil yang hanya bisa
berharap semua berjalan dengan baik sambil sesekali seruput secangkir kopi. Tetapi
setidaknya saya jujur dalam menyampaikan pendapat tanpa ada pikiran sedikitpun
untuk mendapat jabatan. Seruput.
