![]() |
| Aksi 299 |
Sejak keluarnya Perppu pembubaran
ormas Agustus kemarin, saya terus memantau pergerakan HTI. Dimana mereka? Apa
yang sedang mereka lakukan? Mereka tidak mungkin diam begitu saja. Terlalu
berharga jaringan yang mereka bangun selama bertahun-tahun lamanya, untuk
kemudian hilang begitu saja.
Memang plang-plang nama tempat
kantor mereka berdiri sudah ditutupi, bahkan ada yang dicabut. HTI harus
menarik mundur dulu pasukannya, karena bergerak di tempat terbuka tentu tidak
menguntungkan.
Saya memprediksi, bahwa HTI
sedang menyusup masuk ke ormas-ormas agama yang mempunyai "musuh"
yang sama dengan mereka. Baju mereka dilepas sementara, dan bergabung dalam
barisan yang bersimpati maupun yang terancam keberadaannya karena juga
berpotensi dibubarkan.
Nah ketika isu PKI ini semakin
meruncing, barulah mereka keluar dari sarangnya. Isu ini terlalu seksi untuk
dibiarkan begitu saja. Momentum yang bagus sekali untuk mengerahkan sumber daya
mereka yang selama ini tiarap dan menunggu perintah.
Bisa kita lihat, bahwa dalam demo
Jumat nanti -aksi 299- ada penggabungan tema, "Tolak Perppu Ormas dan
kebangkitan PKI". HTI menumpang isu PKI untuk mengerahkan massanya.
Kabarnya HTI akan menurunkan
kader-kadernya Sejabodetabek, jabar, jateng dan jatim ke Jakarta. Mereka akan
memperkuat barisan dengan kelompok-kelompok agamis dan politik yang mempunyai
kepentingan berbeda tetapi mempunyai musuh yang sama.
Target mereka adalah menguasai
DPR dan menuntut adanya sidang istimewa. Situasi akan dibangun supaya umat-umat
awam juga bergerak dan bergabung dengan mereka.
Modelnya persis gerakan 411 yang
gagal kemaren. Isu ada PKI di istana ini sama seksinya dengan isu penistaan
agama. Umat awam akan terprovokasi bahwa mereka akan melawan PKI.
Itulah kenapa nobar-nobar
dibangun di beberapa wilayah untuk menaikkan tensinya. Ada step-stepnya..
Logistik mereka kali ini kuat.
Karena mereka melakukan negosiasi dengan partai politik yang berseberangan
dengan Jokowi.
Dengan logistik gabungan -HTI,
parpol, pengusaha hitam, bahkan dana dari luar- mereka akan lebih mudah
memobilisasi peserta demo dari luar Jakarta.
Yang mengkhawatirkan adalah
adanya provokasi-provokasi supaya terjadi benturan antara aparat dan pendemo.
Dengan terjadinya benturan, maka mereka akan memainkan permainan
"terzolimi" yang biasa mereka lakukan. Benturan itu akan menaikkan
tensi untuk menggerakkan demo selanjutnya yang lebih besar.
Dengan adanya
"kekuatan" itu, maka mereka akan melakukan negosiasi dengan
pemerintah. Negosiasi yang jelas menguntungkan mereka, termasuk bagaimana bang
thoyib -yang berbulan-bulan hilang- bisa pulang ke Indonesia tanpa harus
mendapat hukuman.
Menarik melihat apa yang akan
dilakukan pemerintah kali ini. Apakah harus bernegosiasi dengan mereka atau
mengambil jalan berbeda?
Jakarta semakin panas menuju
Pilpres 2019. Gelombang demo besar kedua - yang pertama karena kasus penistaan
agama - akan dimainkan untuk menekan kewibawaan pemerintah.
Sambil seruput kopi, saya hanya
ingin sedikit mengingatkan Presiden Joko Widodo..
Pak, jangan lupa bahwa umat Islam
bukan mereka saja. Ada NU, ada Ansor dan ada Banser di tengah kita. Total
jumlah kekuatan mereka jauh lebih besar dari kelompok yang mengatas-namakan
agama itu.
Undang mereka untuk berbagi
pemikiran. Bapak butuh kekuatan baru selain apa yang bapak punya sekarang.
Setidaknya, kehadiran mereka akan menggentarkan orang-orang berjubah yang terus
menerus menjual agama itu..
Semoga pemikiran saya sampai ke
meja dimana Bapak sedang mengatur strategi langkah apa yang harus dilakukan
sekarang ini..
Seruput dulu, pakde...
