![]() |
| BUMN |
Seorang teman mengunggah
sebuah status dengan nada sinis, "Dukung nasionalisasi Freeport tapi juga
dukung BUMN dijual2in ke swasta.."
Saya gak tahu, apakah teman
saya ini paham tentang maksud "menjual" BUMN? Atau hanya alergi saja
dengar kata BUMN dijual?
Dalam laporan yang dipegang
Jokowi dan disampaikannya di depan anggota Kadin, ia mengatakan bahwa jumlah
BUMN di Indonesia saat ini mencapai 181 perusahaan. Itu belum anak cicitnya
yang mencapai 800 perusahaan.
Nah, Jokowi menemukan
ketidak-efisienan dan ketidak-fokusan perusahaan2 milik negara itu. Ada anak
perusahaan yang usaha parkir, ada yang usaha laundry bahkan ada yang usaha
katering.
"Masak BUMN kerjaannya
seperti itu?", Kata Jokowi.
Ya memang mengherankan, kok
perusahaan2 pelat merah sampe ngurusin laundry segala. Urusannya apa ?
Dan ini sudah berlangsung
puluhan tahun lamanya. Selama itu - sebelum era Jokowi - BUMN2 itu juga menjadi
sapi perah para pejabat eksekutif dan legislatif..
Kritik tentang BUMN
Indonesia juga datang dari Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim.
Menurut Kim, gurita bisnis
BUMN yang masuk ke sektor2 swasta kecil, itu akan menjadikan sektor usaha tidak
seimbang. Nah, daripada BUMN ngurusin hal-hal kecil, kenapa tidak sektor usaha
kecil itu diserahkan ke swasta ?
Dan inilah yang jadi
pertimbangan Jokowi untuk menjual kepada swasta atau merger-kan saja BUMN2 yang
tidak efektif itu. Selain mengganggu dunia usaha swasta, beban negara juga
berat karena harus mengongkosi BUMN yang tidak punya pendapatan jelas.
Jadi, apa salahnya menjual
BUMN jika perusahaan itu dinilai memberatkan negara?
Toh ini demi efisisensi
sehingga kapal besar bernama Indonesia ini menjadi lebih ramping dan ringan
dalam berlayar. Kalau gendut dan boros, kapan sampainya kita ke tujuan sebagai
negara maju ?
Teman saya itu kayaknya gak
paham dan tidak punya data apapun tentang alasan kenapa BUMN dijual. Mungkin
karena alergi berlebihan kepada Jokowi sehingga logika berfikirnya tidak
jalan..
Ngopi dulu, teman dan
biasakan melihat sesuatu lebih luas dan obyektif. Kalau memandang sesuatu dari
ketidak-sukaan, cara berfikir anda jadi bahan tertawaan orang.. Malu, kan ?
Berfikir ala Jokowi adalah
dengan cara berfikir ala CEO perusahaan, semua dilihat dari sudut pandang luas
sebelum mengambil keputusan..
Bukan berfikir ala office
boy yang selalu meringik minta kenaikan gaji dan kalo gajinya gak naik karena
kurangnya prestasi, bosnya mulu yang disalahin..
Sinis boleh, bego jangan..
Seruput dulu ahhhhh...
